Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 3, 2011

Apa Yang Bisa Dipelajari Dari Kelas-Kelas Di Sekolah Informal


Dari note seorang sahabat…
by Muhalim Dijes on Friday, June 17, 2011 at 9:29pm

Semua harus hidup dalam tata krama suatu siklus. Tata krama–tata krama menjadi pedoman dalam wilayahnya masing-masing dan menjadi arus utama. Dia menjadi penting, dan sadar atau tidak sadar, selalu dinggap sebagai suatu kepemilikan bagi orang-orang yang yang hidup didalamnya.

Sekarang, mari kita bersepakat kalau pendidikan adalah sebuah siklus. Di Negara kita, tata krama dunia pendidikan secara konsep disusun dengan begitu tangguhnya dengan revisi-revisi yang terus diremajakan secara reguler. Semuanya melibatkan pakar, semuanya melibatkan orang-orang terdidik. Pada level ini, semua sistem dan materi yang diatur, secara komprehensif bersifat definitif. Dengan berbekal analisis dari penemuan sebelumnya yang dijadikan acuan dasar kemudian ditarik satu garis paralel untuk menentukan kebijakan pendidikan untuk tahun-tahun mendatang. Kebijakan ini yang mengatur keseluruhan tata cara penerjemahan konsep ke wilayah pengeksekusian proses didik mendidik yang berada dalam sebuah siklus yang selanjutnya menjadi kepemilikan pelaksana pendidikan: guru dan fasilitator.

Mengapa dimiliki? Karena batasan untuk berimprovisasi ambigu, sedangkan batasan untuk berpedoman sangat jelas tertuang. Wilayah ini bukan hanya berada pada cara mengajar, tetapi juga mencakup semua hal-hal yang sifatnya teknis yang seringkali menuntut keseragaman. Sebagai contoh, penyeragaman waktu belajar yang tak ada tawar menawar. Semua telah teragenda dengan begitu padat sehingga materi yang berpotensi untuk dikembangkan atau kemampuan siswa yang berpotensi untuk dikembangkan dibatasi ruang geraknya. Dalam prakteknya di lapangan, tenaga pengajar akui atau tidak diakui sangat berpedoman dengan rancangan produk pemerintah. Padahal merekalah yang sesungguhnya memahami murid, memahami socio-kultur lingkungan belajar. Contoh yang lain adalah mengenai sistem yang menjadikan semua yang terlibat dalam dunia pendidikan menjadi mesin-mesin administratif. Sebagai contoh, sebuah sekolah atau kampus yang ingin memberikan pencitraan yang baik akan sangat sibuk berkutat dengan hal-hal administratif yang dipersyaratkan oleh birokrasi. Akreditasi sebuah sekolah dalam laporannya akan memberikan data-data tenaga pengajar yang tampaknya diatas kertas sangat menjanjikan sehingga tim assessor tampaknya akan sangat bodoh jika meragukan kualitas sekolah yang bersangkutan. Dalam prakteknya, telah menjadi rahasia umum, bahwa ternyata kebanyakan data-data yang diserahkan tersebut adalah merupakan laporan fiktif.

Tetapi yang kurang tepat dalam hal ini bukan semata-mata sistem itu sendiri. Tapi sebenarnya masalahnya berakar pada pengawalan dari sistemnya. Tenaga pengajar yang benar-benar berdedikasi penuh dengan profesinya akan memanifestasikan seluruh kemampuan dan kesediaannya untuk perkembangan peserta didik. Seyogyanya penerjemahan kurikulum tidak seharusnya sekaku yang kita lihat pada hari ini. Banyak target yang ingin dicapai sesuai dengan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Tetapi pendidik selalu menerapkan standar ganda yang kadang merugikan peserta didik. Untuk keperluan administratif, mereka membuat RPP sesuai dengan interpretasi mereka dengan pengeditan seperlunya terhadap rancangan yang sudah ada. Pada prakteknya di lapangan, apa yang dituliskan ternyata tidak dilakukan dengan sebenar-benarnya. Guru dan para dosen hanya mengikuti materi yang telah dirangkum oleh buku-buku teks. Pelaksanaan ini sungguh jauh dari harapan proses pembelajaran yang ideal.

Pare: Sebuah Perkampungan Bahasa Inggris atau SMART yang Membuat Orang-orang Merasa Tampak Bodoh

Pada bulan Januari – Februari kemarin, saya menyempatkan diri ijin dari tempat mengajar saya dan berangkat ke Kabupaten Kediri, Jawa Timur tuk memperdalam Bahasa Inggris di sebuah perkampungan yang berada di Kecamatan Pare. Perkampungan ini selama berpuluh tahun telah menjadi tempat untuk mempelajari bahasa Inggris bagi orang-orang yang berasal dari banyak daerah di Indonesia. Bahkan dalam perkembangannya, peminat orang-orang yang kursus sekarang tidak hanya berasal dari pulau-pulau di Indonesia. Beberapa peminat bahasa Inggris yang berasal dari Negara tetangga Malaysia juga tercatat di beberapa tempat kursus. Dalam satu kecamatan tersebut terdapat dua ratusan lebih tempat kursus yang teridentifikasi dan mendapatkan persetujuan pengelolaan dari Dinas Pendidikan setempat.

Pare adalah tempat yang benar-benar terkonsentrasi untuk memperdalam bahasa Inggris. Walaupun ada satu atau dua tempat kursus bahasa asing lainnya seperti Korea, Jepang hingga Mandarin, tetapi sampai sejauh ini, para pendatang yang datang untuk belajar hanya mengetahui bahwa Pare = Inggris. Kadang saya melakukan survey kecil-kecilan dan menayakan apa yang sesungguhnya memotivasi teman-teman yang menuntut ilmu disana untuk memilih Pare. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa, yang praktis telah belajar Bahasa Inggris minimal 6 tahun di bangku-bangku sekolah. Jika ada yg mulai belajar dari sekolah dasar, berarti total waktu yang dihabiskan adalah selama 12 tahun. Jawaban mereka umumnya mirip-mirip. Mereka butuh keahlian berbahasa Inggris untuk menunjang karir mereka, atau mereka ingin melanjutkan studi mereka di luar negeri.

Dari latar belakang pendidikan, saya sendiri adalah seorang sarjana Pendidiakn Bahasa Inggris yang berhubungan dengan bahasa ini selama 4 tahun di bangku kuliah. Ditambah lagi, saya juga sempat mengenyam kursus Bahasa Inggris singkat selama 2 bulan di Amerika Serikat yang dibiayai sepenuhnya oleh pemerintas US. Banyak orang yang menanyakan tujuan saya berangkat kesana dengan pertanyaan yang serupa “memangnya selama ini belum cukup?”. Saat itu saya tidak mempunyai jawaban yang benar-benar meyakinkan bagi setiap orang yang bertanya. Saya selalu mempunyai alasan (excuse) dengan mengatakan bahwa yang akan saya pelajari disana beda, dan saya memang membutuhkan suasana yang kondusif untuk belajar disana.

SMART adalah satu dari sekian banyak tempat kursus di Pare yang melegenda disana. Ketika baru tiba disana dan saya menanyakan ke teman-teman yang telah berada disana sebelumnya tentang tempat yang kira-kira cocok untuk saya belajar TOEFL, mereka umumnya merekomendasikan SMART. Tetapi tanpa melebih-lebihkan, mereka berkata, kalau saya sampai lulus untuk memasuki kelas TOEFL tersebut, maka berarti saya akan menjadi pemegang rekor untuk orang yang bisa lulus di kelas tersebut tanpa melalui kelas-kelas mereka sebelumnya. Di SMART, untuk kelas grammar (TOEFL berada di kelas grammar), ada enam level yang berada dibawah level TOEFL itu sendiri : basic, elementary, pre-intermediate, intermediate, high-class, dan pre-TOEFL. Setiap level, kecuali basic, mengharuskan bagi calon pendaftarnya untuk mengikuti tes. Jika seseorang telah lulus di level pre-intermediate (dimana banyak orang menganggapnya level yang cukup sulit), lantas tidak menjadi jaminan baginya untuk secara otomatis bisa memasuki level intermediate. Mulai dari level intermediate, 3-5 orang peserta kursus sudah dianggap banyak, karena seleksi masuk ke tiap level begitu ketat. Jika ada yang tidak lolos pada suatu level, biasanya mereka untuk sementara waktu mendaftar kursus di tempat lain dan mendaftar kembali pada periode selanjutnya. Tidak berlebihan dikatakan kalau banyak orang yang berlama-lama di Pare hanya karena ingin lolos masuk dan belajar di SMART.

Saya sendiri pada awal mulanya merasa terpecundangi. Karena merasa telah dari Amerika, sudah memiliki nilai TOEFL yang cukup lumayan, serta IPK yang cukup tinggi ketika kuliah dulu, maka dengan optimisnya saya berkesimpulan kalau saya bisa lulus tes untuk kelas tersebut. Untuk bisa lulus, nilai ujian minimum (bukan skor TOEFL) adalah 470, sedangkan nilai saya saat itu adalah 440. Runtuh sudah semua tembok kebanggaan diri saya saat itu. Saya menjadi tampak pandir dihadapan tembok bangunan SMART yang hanya terbuat dari anyaman. Memang secara fisik, SMART adalah tempat kursus yang tampak lusuh. Bangunan seadanya, proses belajar mengajar yang bisa berlangsung dimana saja terutamanya dibawah pohon serta pengajar yang mengajar dengan menggunakan sarung adalah pemandangan yang lazim yang akan didapatkan disana.

Selama seminggu, sambil kursus di tempat lain, saya belajar terus untuk ujian remedy berikutnya sebagai ujian kompensasi bagi pendaftar yang tidak lulus. SMART mengetahui kalau ujian mereka begitu selektif sehingga mereka memberi keringanan untuk memberikan kesempatan mengulang di minggu berikutnya. Setelah belajar yang cukup intens, pada kali keduanya saya berhasil lulus dengan selisih tipis sebanyak sepuluh dari standar yang ditetapkan. Pendaftar untuk kelas ini adalah 2 orang, dan saya menjadi satu-satunya peserta yang lulus untuk periode saat itu. Disana, berapapun yang lulus masuk untuk level tertentu, akan diajar dengan sepenuh hati. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan tempat-tempat kursus lain di Pare yang menetapkan rata-rata minimum 7 orang peserta kursus per levelnya. SMART adalah merupakan tempat pendidikan yang paling mengutamakan “prinsip-prinsip pendidikan yang sesungguhnya” yang pernah saya ketahui. Sampai sekarang saya masih tidak mengerti tentang hitung-hitungan profit yang mereka peroleh. Untuk kelas saya sendiri, ada 3 orang pengajar yang berbeda-beda untuk tiap skill: listening, structure & written expression dan reading. Kursus saya selama sebulan disana hanya seharga Rp. 185.000 dengan 3 kali pertemuan setiap harinya, mulai dari hari senin sampai sabtu dan tiap pertemuannya berlangsung selama satu setengah jam. Jadi kalau dihitung harga untuk tiap pertemuan satu setengah jamnya berkisar Rp. 2.500. Adalah hal yang wajar kalau sampai sekarang ini bangunannya dibangun ala kadarnya dan baju yang dikenakan pengajarnya hanya itu-itu saja.

Selama belajar disana, saya memperoleh ilmu yang banyak sekali. Setiap materi disiapkan dengan begitu matangnya dan saya tidak bisa lebih menekankan lagi untuk mengatakan kalau ilmu yang dimiliki pengajarnya sangatlah luas. Setiap kasus untuk soal yang dibahas dijelaskan permasalahnnya dan bahkan sumber acuannya dijelaskan secara mendetail hingga halaman referensinya. Para pengajarnya tidak membawa buku. Tetapi setiap materi akan dibahas sampai ke akar-akarnya dengan tetap menjunjung tinggi rasa tanggung jawab terhadap keilmuan mereka. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui di kelas-kelas formal, dimana guru mengajar dengan hanya memberikan tugas dari buku-buku. Di SMART, mereka mempunyai sistem pembelajaran tersendiri dalam artian, pemberian materi dengan gaya mereka sendiri. Setiap materi selalu diterjemahkan kedalam bentuk bagan-bagan. Pelajaran bahasa Inggris akan tampak sebagai pelajaran hitung-hitungan, rumit, tapi anehnya disukai dan dianggap menantang. Tim pengajar disana betul-betul dituntut untuk memahami materi yang akan diajarkan. Tempat ini mempunyai cara yang unik untuk menginterpretasikan materi.

Disamping hal-hal telah disebutkan diatas, tempat kursus ini juga telah menerbitkan beberapa buku yang dipakai dalam di lingkup Pare. Bukan materi yang dikompilasi atau semata-mata di potong dan ditempel dalam kemasan yang baru dan lain. Tetapi buku-buku yang diterbitkan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara isi yang menunjukkan kalau tim pengarang betul-betul memahami apa yang mereka tulis. Institusi ini seakan menyentil sekolah-sekolah formal yang guru-gurunya tidak produktif dalam membuat buku pelajaraan yang sesuai dengan kebutuhan siswa, bahkan menyentil sebagian besar kampus-kampus di Indonesia yang dosen-dosennya tidak produktif atau produktif tetapi plagiat. Tak habis-habisnya kekaguman saya dengan tempat kursus ini.

Keunggulan lainnya yang sulit ditemui di institusi-institusi baik formal maupun non-formal yang ada di SMART adalah evaluasi terhadap peserta didik. Evaluasi ini dilaksakan setiap hari! Perkembangan siswa benar-benar diobservasi dengan jelas dan selalu didiskusikan setiap harinya. Saya sendiri sangat merasakan evaluasi ini. Suatu ketika, ketika saya sedang mencari intruktur untuk kelas reading saya (saya menjadi nomaden selama belajar disana karena tempat yang sangat terbatas). Tiba-tiba instruktur dari kelas lain yang saya bahkan tak tahu namanya menegur saya dengan mengatakan :”masih susah di adverbial clause ya mas?” bahkan instruktur yang tidak mengajar saya sekalipun mengetahui masalah pelajaran yang saya tidak mengerti. Setiap pengajar yang mengajar saya untuk masing-masing skill selalu menanyakan kemajuan saya untuk skill yang lainnya. Motivasi, saran dan ilmu, itu yang tiap hari saya dapat. Jika dulu di salah satu perguruan tinggi Islam tempat saya memperoleh gelar sarjana, memulai pelajaran dengan langsung ke pokok inti materi, maka di SMART, saya memulai pelajaran dengan berdoa dan mengakhiri pelajaran dengan berdoa pula. Tak perlu pengajar yang rupawan atau fasilitas yang mewah untuk membangun nilai-nilai religius siswa atau membangun kewibawaan suatu tempat pendidikan. SMART membuktikan hal itu.

Kelas Sebagai Sebuah Arogansi Tingkatan atau Tempat untuk Mencetak Manusia Cerdas

Pendidikan alternatif menjadi penting di tengah-tengah pendidikan formal yang terlalu berpedoman dengan birokrasi dan cenderung untuk menerapkan politik mercusuar. Kebutuhan siswa dan sekolah tidak dikontekstualkan, karena tenaga pengajar berpacu dengan target pembelajaran. SMART adalah merupakan contoh pendidikan alternatif yang sangat baik dalam hal penyeleksian siswa yang dapat diaplikasikan di sekolah-sekolah formal. Karena adanya rasa kedewasaan untuk mempertanggungjawabkan ilmu, pengajar di SMART tidak akan meluluskan siswa yang memang tidak memenuhi standar. Karena selain akan menghambat si siswa sendiri, juga akan menghambat kemajuan siswa yang lain. Dengan menerapkan kebijakan seperti ini, maka guru juga akan semakin tertantang untuk betul-betul ‘memajukan’ siswa mereka, karena indikasinya akan sangat jelas. Guru tidak boleh menutup mata akan kemajuan siswa dengan melanjutkan terus materi pembelajaran.

Sangat dilematis memang, karena yang menjadi sentral bukan hanya guru, tetapi juga siswa harus berperan aktif. Kesadaran untuk bersungguh-sungguh memang adalah hal yang juga turut dipengaruhi oleh ‘rumah’. Semua yang dibawa siswa dari rumahnya adalah faktor yang cukup dominan dalam pembentukan kepribadian siswa. Tapi yang harus digarisbawahi adalah tidak ada legitimasi yang sifatnya memaksa yang bisa menjadi landasan apakah seorang siswa semangat atau tidak semangat; rajin atau tidak rajin; suka atau tidak suka, yang datangnya dari ‘rumah’. Semua itu dapat diperoleh dari dalam kelas. Seorang guru mempunyai legitimasi yang kuat untuk memberikan saran, perintah, bahkan paksaan untuk kondisi-kondisi pembelajaran. Guru bisa mendesain pemberian tugas-tugas sebanyak mungkin bagi siswa dan berkata kepada siswanya bahwa tugas tersebut sangat penting dalam pemberian nilai. Tepat atau tidak tepat waktu berada dikelas ditentukan oleh guru baik dengan cara memaksa atau dengan cara memberikan panutan. Guru bisa menanamkan semangat menuntut ilmu ke murid-murid dengan pemberian motovasi di tengah-tengah proses belajar. Guru bisa membuat kontrak pembelajaran sendiri, menamkan nilai-nilai keagamaan dengan praktek berdoa sebelum belajar, hingga menanamkan nilai moral, kolektivisme dan kerjasama. Berbenah dari kelas dengan guru yang menjadi pemeran sentralnya adalah kunci dari perubahan kearah yang lebih baik karena guru memiliki legitimasi yang kuat.

Pemahaman aspek-aspek psikologi yang sangat berpengaruh terhadap prestasi siswa walaupun selama ini secara formal-legalistik di mandatkan oleh orang atau tempat sepeti Bimbingan Konseling (BK) atau Penasihat Akademik, (PA) sebenarnya kurang efektif, karena yang paling tahu kondisi peserta didik adalah guru mereka. Guru yang sebaiknya mengobservasi siswa secara telaten dan membuat evaluasi karena setiap siswa sifatnya unik. Evaluasi sangat penting untuk memberikan gambaran langkah-langkah yang tepat untuk berinteraksi dengan siswa atau untuk memberikan saran/masukan kepada siswa. Seorang pengajar sebaiknya selalu melakukan improvisasi-improvisasi terhadap materi yang telah ditentukan, sesuai dengan keadaan dan pemahaman siswa. Keadaan kelas harus benar-benar dipahami oleh guru dan mulai berbenah darinya.

Meskipun demikian, yang paling penting dari pembenahan yang dilakukan oleh seorang guru adalah membenahi dirinya sendiri. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau banyak guru yang mengajar yang tidak kompeten dibidangnya. Hal ini salah satunya disebabkan karena sistem perekrutan yang sangat carut marut. Sebagai contoh, penerimaan pegawai guru di Indonesia dilakukan dengan melakukan tes yang isinya seragam untuk semua guru bidang studi yang berbeda-beda. Seorang calon guru fisika akan mendapatkan soal tes masuk menjadi pegawai yang tesnya sama dengan calon guru Bahasa Inggris. Biasanya, materi yang menjadi subjek bagi seorang calon pegawai guru bahkan tidak masuk dalam dalam bahan ujian. Calon guru Fisika dan Bahasa Inggris akan sama-sama menjalani Tes Potensi Akademik, Tes Pengetahuan Umum dan Tes Skala Kematangan. Mereka tidak diseleksi berdasarkan keilmuan mereka, apalagi seleksi dengan menggunakan tes micro teaching. Tidak heran jika tempat-tempat kursus seperti SMART memiliki pengajar-pengajar yang jauh lebih banyak dan berkualitas ilmunya dibanding guru-guru di sekolah-sekolah formal. Apa yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelas bahasa Inggris? Apakah pasal-pasal? Apakah pancasila? atau menghitung sisi miring suatu segitiga?

Tata krama dunia pendidikan di Indonesia seharusnya sesekali bercermin dengan tempat-temapat penyelenggara pendidikan alternatif. Undang-Undang Dasar yang telah menjamin bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa adalah hal urgen, harus dikawal dengan penuh tanggung jawab. Tugas kita bersama adalah kembali memurnikan tujuan kita. Pendidikan seyogyanya tidak menjadi lahan untuk mengeruk keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Fasilitas penting, tapi lantas tidak dijadikan sebagai penggerak utama pendidikan. Justru dalam keterbatasan itu sebenarnya menuntut kita untuk menjadi manusia yang kreatif. Karena itu kita harus segera berbenah dari lingkungan terkecil tempat belajar mengajar. Guru yang menjadi masinis pendidikan sudah seharusnya memiliki kualifikasi yang excellent yang bisa menginspirasi siswa-siswa dari ruang kecil yang bernama kelas. Siswa kelas 3 SD sudah seharusnya memiliki ilmu kelas 3 SD. Kelas bukan arogansi tingkatan. Kelas menunjukkan jenjang ilmu siswa. Dan itu semua bergantung dari guru.

Semua aspek pendidikan menjadi penting. Tetapi guru yang berada dalam ruang yang bernama kelas adalah yang sangat penting diantara semuanya. Kualitas pendidikan kita ditentutakan dari sini. Kini saya sudah menyadari alasan mengapa saya sampai harus ke Kediri. Mengapa SMART menjadi guru saya yang begitu menginspirasi. Semoga kita bisa belajar dan berbenah diri.


Responses

  1. Mantabs brow….. Saya setuju itu………..

    • semoga da pelajaran berharga untuk kita sunting jadi rangkaian tata diri..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: