Oleh: uun nurcahyanti | Agustus 1, 2011

Surga Dibawah Telapak Kaki Ibu


S
21:17 SMART ILC

“Surga di bawah telapak kaki ibu” adalah sebuah kata bijak yang cukup populer dan sangat sering kita dengar. Umumnya orang menganggap bahwa kata-kata ini merupakan peringatan agar kita senantiasa ingat pada orang tua kita terutama ibu karena ibulah orang yang harus paling kita hormati. Beliau telah mengandung kita 9 bulan lebih dan mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan kita. Beliau juga meluangkan waktu untuk mendidik kita. Dan pasti banyak lagi alasan kenapa kita harus menghormati orangtua kita terutama ibu.

Namun pernahkah terbayang bahwa para ibu kita itu tidak serta merta menjadi ibu? Ada proses belajar yang mereka lalui agar surga berada di bawah telapak kakinya.

Ungkapan ini,menurut saya, justru lebih tepat untuk memberi peringatan kepada para calon ibu agar mereka senantiasa ingat bahwa surga itu ada di bawah telapak kakinya,bahwa perempuan adalah tapak kehidupan dimana padanya tertanam para calon generasi penerus asa. Pada diri perempuan ada wilayah tanggung jawab pendidikan anak yang besar karena merekalah sekolah pertama para penerus kehidupan ini. Meski tanggung jawab pendidikan anak memang ada di tangan orang tua tapi ibu adalah tempat pertama para penerus generasi ini bertumbuh. Rekam jejak pertama yang terangkum dalam kebeningan jiwa seorang anak adalah cetak biru ibunya. Bila seorang perempuan sebagai calon ibu tidak memiliki kompetensi keilmuan yang baik dengan kondisi psikologis yang mapan dan kemampuan manajemen diri yang elok, maka bagaimana bentuk surga yang hendak ditawarkan pada anak-anaknya kelak? (Sementara katanya surga ada di bawah telapak kaki ibu..).

Karena surga ada di bawah telapak kaki ibu, maka pada hakekatnya ibulah yang berperan besar untuk menentukan hitam putihnya kehidupan seorang anak. Selalu ada peran seorang ibu dalam kesuksesan seorang anak, sama halnya ada andil seorang ibu dalam kekelaman hidup seorang anak.

Kondisi ini cukup menjelaskan satu hal penting bahwa kecerdasan bagi perempuan adalah harga mati. Tanpa kecerdasan yang cukup dan kesadaran untuk terus menerus mengembangkan kualitas diri, maka kualitas surga yang natinya kita tawarkan pada anak-anak kita bukanlah surga yang senyata-nyatanya. Atau jangan-jangan kita malah kesulitan menawarkan surga bagi anak-anak kita..


Responses

  1. itu slogan yg ada kata “Spartan”, hehehe jd inget film “300”….

    surga = kebahagiaan saat ini & masa mendatang
    neraka= kesengsaraan saat ini & masa mendatang.
    jd, surga sudah mulai dirintas dari saat ini…..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: