Oleh: uun nurcahyanti | Juli 31, 2011

Sekolah Bertaraf Internasional Olala…


Kamis, Juli 16, 2009 SMA

Seorang sahabat lama mengunjungi saya beberapa waktu yang lalu. Dia bercerita tentang pengalaman hidupnya saat melamar kerja dan hendak bergabung dengan salah satu rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di Kediri. Setelah tes interview yang cukup panjang, sahabat saya ini dinyatakan diterima. Pengalamannya mengajar selama lebih dari tiga tahun di salah satu institusi yang sangat inovatif tentu menjadi amunisi yang tidak main-main. Pengalamannya membentuk lingkungan yang English area dan telah menelurkan ribuan alumni juga merupakan suatu bukti kualitas sahabat saya ini sebagai seorang pengajar yang luar biasa. Sehingga sangat bisa dimaklumi bila sahabat saya ini lolos seleksi sebagai salah satu tenaga pengajar disana.

Namun kebahagiaan ini ternyata tidak berlangsung lama. Saat tahun ajaran baru dimulai, sahabat saya ini tidak dipanggil untuk bergabung tapi justru dipanggil untuk menerima sebuah kenyataan pahit bahwa kelolosannya pada seleksi lalu digugurkan! Apa pasal? Karena sahabat saya yang luar biasa ini bergelar SE alias Sarjana Ekonomi. Pengalaman dan kemampuannya dalam bidang pengajaran dan ke-Bahasa Inggris-an sama sekali tidak menjadi pertimbangan karena asumsi dasar para perintis SBI tersebut adalah bahwa sarjana pendidikan jauh lebih kapabel dibandingkan sarjana-sarjana lain dalam hal pengajaran dan persekolahan meskipun dia minim pengalaman kerja.

Sebuah pilihan sikap yang sangat bagus dan berdasar tapi memiliki celah kelemahan yang mendasar. Kelemahan tersebut adalah kenyataan bahwa pendidikan adalah suatu universalitas dimana hakekat dasar manusia adalah mencelupkan diri dalam ranah pendidikan itu sendiri. Ini artinya adalah bahwa pendidikan adalah hakekat hidup dari setiap individu yang bernama manusia. Pendidikan adalah komponen aktif yang sangat signifikan dalam proses hidup manusia terutama demi peningkatan kualitas dirinya. Demikian juga dengan tugas kepengajaran. Kita seringkali tidak sadar bahwa dalam diri kita ada tugas kemanusiaan yang terukir didalam darah daging kita. Kita juga memiliki tugas ke- Tuhan-an yang mengalir deras dalam urat nadi kita. Mengajar adalah salah satu tugas ke-Tuhan-an yang mengalir dalam diri manusia.

Bagaimanapun, segala hal yang ada di alam semesta ini adalah kitab dan dari kitab tersebut kita belajar, meruncingkan kemampuan kita dan meluaskan kualitas kemanusiaan kita. Untuk mengikat setiap makna dari alam semesta itu kita butuh para begawan-begawan pendidikan_ yang tidak cukup dinilai berdasarkan titelnya. Memang, salah satu karakter khas hierarki dunia pendidikan kita saat ini adalah titel yang tersandang pada nama kita namun harus juga disadari bahwa pengalaman hidup dan petualangan-petualangan logika yang kita lalui tidak selalu terkumpul dengan serentetan titel.

Titel yang kita sandang memang suatu standar ukur untuk mengetahui level-level pendidikan formal telah kita lalui. Yang saya garis bawahi sekali disini adalah levelitas pendiikan formal,bukan pengalaman hidup dan juga bukan kualitas emosi dan mental yang kita punyai apalagi kualitas personal kita secara nyata,senyata-nyatanya! Bukannya saya apatis terhadap segala macam titel yang muncul saat ini, saya sangat mengapresiasi hal tersebut namun kualitas pendidikan yang saat ini adalah pendidikan dalam wacana hidup bukan pendidikan dalam kerangka hidup. Wajah dunia pendidkan kita masih sebatas teori-teori dalam teks book_ini masih lumayan sebenarnya_hal yang lebih parah adalah teori-teori itu pun kini mulai tereduksi dengan keinginan untuk sekedar naik jenjang dan mendapat titel! Lagi-lagi ujung-ujungnya adalah titel,bukan tanggung jawab atas tersandangnya suatu titel. Sungguh sangat ironis. Padahal kita ada bukan karena kita terlahirkan di bunia ini, kita ada karena kita berkarya. Tanpa karya nyata_meski kita bejubel titel_itu sama artinya kita masih dalam ketiadaan.

Bila kondisi ini menjadi patokan utama atau satu-satunya untuk rekruitmen tenaga pengajar, sungguh bisa dibayangkan bagaimana kualitas pendidikan Indonesia masa depan. Dunia pendidikan Indonesia butuh orang-orang yang peduli pada pengembangan sumber daya manusia Indonesia, yang berpihak pada kualitas pendidikan dan anak didik secara maksimal, dan yang memahami bahwa pendidikan adalah universalitas bukan eksklusifitas. Kita lebih butuh orang-orang yang mau bergerak dan berinovasi demi kemajuan para peserta didik seutuhnya_meski tak bertitel_daripada orang-orang yang bertitel namun tidak mampu bertanggung jawab terhadap jenjang-jenjang yang telah ditapakinya. Apapun, tanggung jawab haruslah lebih besar daripada penampilan.
Mari memberikan karya nyata terbaik demi kemajuan para anak bangsa…

Dipersembahkan untuk Ms Musriatun Nikmah


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: