Oleh: uun nurcahyanti | Juli 31, 2011

Renungan Kemerdekaan


Jumat, Agustus 21, 2009 SMART ILC

Kemerdekaan adalah…
kemampuan untuk bertahan pada rasa sakit dan putus asa
demi mewujudkan impian ideal kita

Kemerdekaan berarti…
kesanggupan untuk mencumbui rasa letih tanpa henti

Kemerdekaan berarti…
berserah diri sepenuhnya pada kerja keras dan memberikan karya terbaik
tanpa menuntut pengakuan apalagi imbalan

Kemerdekaan adalah aktualisasi ternyata dari para Anak Bangsa!

Bulan Agustus selalu disambut dengan suka cita oleh Bangsa Indonesia. Hal yang sangat umum terjadi dan sudah menjadi tradisi tahunan. Dan karena dianggap sebagai suatu tradisi inilah maka nilai-nilai Kemerdekaan seakan-akan menguap entah kemana. Terasa hampa dari tahun ke tahun.

Sayangnya, kondisi ini justru seperti diberi peluang untuk berkembang karena para guru bangsa yang seharusnya berdiri pada barisan terdepan dalam memberi suri tauladan dalam memaknai dan mencitrakan kemerdekaan secara apik sebagai momentum dan aset nasional yang luar biasa berharga malah terjebak dengan kepentingan diluar jalur kepentingan nasional.

Kepentingan dan harga diri partai seakan lebih penting dan lebih berharga dari kepentingan nasional. Hal sepele yang bisa dijadikan contoh adalah sikap ibu Megawati yang lebih suka menghadiri upacara bendera di wilayah kepartaian daripada di wilayah Istana Negara yang notabene sebagai simbol kenegaraan. Penulis memang tidak memahami konteks politik yang pasti punya pertimbangan-pertimbangan logis yang dilolohkan ke benak masyarakat. Tapi pernahkah ada pertimbangan wilayah hati nurani rakyat?

Selama 64 tahun Indonesia merdeka, Indonesia pernah dipimpin oleh enam presiden saja. Enam orang luar biasa yang berkesempatan menjadi presiden sebuah negeri besar nan elok yang bernama Indonesia. Pernahkah terbersit satu kesadaran bahwa tanggung jawab kesuritauladan bangsa akan terus melekat meski kursi kepresidenan tak lagi terduduki? Presiden ataupun mantan presiden tidak terlalu penting bagi kami, rakyat Indonesia. Bukankah suatu karya untuk bangsa itu tak berbatas profesi dan jabatan? Bukankah dalam diri setiap manusia tertatahkan tugas ke-Tuhan-an sebagai pendidik, sebagai guru? Bukankah setiap kita adalah kitab yang pasti berkemampuan memberikan butir-butir pelajaran bagi orang lain? Bukankah kepentingan negara seyogyanya diletakkan di atas kepentingan pribadi dan golongan?

Lantas pelajaran apa yang sebenarnya ingin diberikan untuk kami, rakyat Indonesia, dalam merenungi dan memaknai Hari Kemerdekaan selama ini? Bagaimana kami bisa bangga pada bangsa ini dan mengerti bahwa kemerdekaan adalah milik seluruh komponen bangsa bila kami tak punya guru untuk mengajarkan bahwa nasionalisme memang ada dan bukan sekedar konsep? Bagaimana kami mampu mengenal cita rasa Indonesia bila kami tak punya pemandu yang dengan sabar melatih indra perasa kami?

Semoga seluruh komponen bangsa masih ingat bahwa rakyat Indonesia itu ada…

untuk para sahabat…
yang selalu menangis didepan saya saat berbincang tentang ke-Indonesia-an


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: