Oleh: uun nurcahyanti | Juli 29, 2011

Wisata Pendidikan


Pesona Wisata

Kata wisata adalah salah satu kata yang sangat populer saat ini. Saking populernya, sampai-sampai segala hal dikonotasikan dengan wisata, dan kalaupun tak lazim maka akan dibuat sebuah hubungan atau alasan-alasan yang pada akhirnya mengamini hubungan kata wisata dengan hal dimaksudkan tersebut.

    Saking besarnya pesona yang diciptakan untuk kata ini, seluruh potensi wilayah dikait eratkan dengan kata wisata ini. Kabupaten pun seketika riuh dan hidup karena wilayah-wilayah terpencil dengan potensi besar yang selama ini terlupakan dan tidak dikenal orang serta merta disulap dengan bungkus wisata, dan hup!, para wisatawan pun berdatangan ketempat-tempat seperti ini. Dan secara otomatis meningkatkan pendapatan daerah secara nyata dengan kurun waktu yang cepat pula.

    Kondisi yang menyenangkan inipun seakan menghimpun mimpi baru bagi daerah untuk menjaring pendapatan asli daerahnya. Akhirnya muncul fenomena baru bagi para pemimpin daerah, baik yang lama maupun yang baru dan bahkan mungkin bagi yang masih berangan-angan untuk memimpin daerah, yaitu mengemas potensi daerah dengan bungkus kata wisata ini. Hal ini juga tentu disambut secara riuh rendah oleh para pelaku bisnis. Dan tentu yang terjadi adalah hal yang bisa dibayangkan, bahkan oleh orang awam seperti saya, yaitu hubungan harmonis antara pemerintah daerah yang berkepentingan untuk mengelola pendapatan daerah dan para pemilik modal yang tak pernah surut berkeinginan untuk mengguritakan bisnisnya.

Pengembangan Wilayah Wisata Dan Permasalahannya

    Kata wisata memiliki konotasi casual dan physical yang kental, sehingga pembangunan sarana dan prasana menjadi target utama pengelolaan tempat-tempat wisata ini. Hal ini bisa tentu dimaklumi karena orang yang berwisata adalah orang yang membutuhkan refreshing dari segala penat dan rutinitas yang mereka alami sehari-hari. Sehingga orang-orang yang butuh berwisata tentu mengharapkan tempat yang relaks dan cukup elok untuk dinikmati, sehingga beban pikiran dan mungkin juga beban persoalan yang tengah ditanggung bisa sedikit diurai atau dilenturkan.

    Pembangunan sarana dan prasarana ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit mengingat kebanyakan tempat wisata yang masih perawan justru terletak di tempat-tempat yang terpencil dan jauh dari jangkauan kendaraan umum. Dan hal ini berpotensi menyedot anggaran pemerintah daerah dalam satu masa anggaran tertentu.

    Biaya yang besar ini tentu harus dibarengi promosi yang gencar untuk menghidupkan daerah-daerah wisata baru tersebut karena bila daerah wisata baru ini tak sanggup menjadi magnet penyedot pemasukan daerah, maka segala pembangunan yang berbiaya tinggi tersebut hanya akan menjadi seonggok bangunan usang yang menjadi saksi bisu suatu sejarah kelam dimana uang rakyat kembali terbuang sia-sia.

Hal ini tentunya juga secara otomatis mengubah konsepsi kerja dan juga beban kerja dalam manajemen pemerintahan daerah yang bersangkutan. Namun bila pemerintah daerah belum punya manajemen khusus dalam pengelolaan aset-aset baru daerahnya ini, maka hal ini tentu akan memunculkan persoalan tersendiri. Sementara kita semua mahfum bahwa pemerintahan kita dalam berbagai levelnya masih belum lentur dan taktis dalam mengelola kondisi-kondisi yang membutuhkan penanganan cepat ataupun yang berubah secara cepat karena jalur birokrasinya yang seringkali mengular tanpa jalur lintas tol itu.

Padahal, di lain pihak tempat-tempat wisata baru ini tentunya butuh penanganan khusus dengan ketrampilan dan keilmuan yang khusus juga, tergantung dari tempat dan model wisata yang hendak dikelola. Sementara tenaga ahli atau tenaga terampil yang bertugas mengelola tempat-tempat seperti ini tentu tidak serta merta pada setiap daerah ada.

Apakah Selalu Wisata?

Persoalan lain yang berpotensi muncul dan berkemampuan untuk memicu kegagalan proyek-proyek tempat wisata ini adalah ketidak jelian pemerintah daerah dalam mengelola potensi daerahnya, sehingga wilayah proyeksi wisata malah sekedar meninggalkan jejak puing-puing rencana dan ambisi pemerintah semata, yang bisa jadi justru menenggelamkan bangunan budaya yang telah dibangun oleh masyarakat daerah yang bersangkutan.

Tentu bisa sangat dimaklumi dan didukung bila yang dikembangkan pemerintah daerah tersebut adalah aset daerah yang memang potensial dan bernilai kepariwisataan. Namun bila pemerintah hanya sekedar mengembangkan aset daerah dengan pengelolaan yang seadanya dan bahkan terkesan mengekploitasi potensi-potensi strategis daerah yang bernilai budaya dan sosial tinggi menjadi suatu hal yang pada akhirnya hanya bernilai kepariwisataan, maka hal ini berpotensi untuk menghancurkan karakter kebudayaan dan nilai-nilai kesosialan yang telah terbangun dalam masyarakat daerah yang bersangkutan dan pasti memiliki jejak sejarah yang panjang.

Contoh yang saat ini marak adalah wisata religi. Kosakata ini memang terdengar unik dan indah, namun bila dicermati lebih jauh secara rasa bahasa, rangkaian kata wisata religi ini mengandung makna yang konstraktif sama sekali. Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, kata wisata memiliki dua makna, yaitu bepergian bersama-sama ( untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang dan sebagainya) dan piknik yang bermakna bepergian di ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dengan membawa bekal makan dan sebagainya. Religi mengandung makna kepercayaan kepada Tuhan atau kepercayaan akan adanya kekuatan adikodrati di atas manusia.

Bila kedua kata ini bergabung maka akan terwujud suatu makna : bepergian bersama untuk memperluas pengetahuan yang berhubungan kepercayaan kepada Tuhan. Sungguh suatu makna yang sangat dalam dan serius karena dalam makna ini terkandung konsepsi pencarian ilmu pengetahuan yang tentu bermakna pendidikan dan pembelajaran.

Namun sayangnya, kata wisata juga mengandung konotasi bersenang-senang yang berpotensi mereduksi arti pembelajaran yang terkandung dalam makna awalnya. Memang kita bisa beralibi bahwa suatu pembelajaran harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, namun apabila kita jujur mencermati kondisi di lapangan dan ke-umum-an penggunaan kata wisata, tentu kita mahfum bahwa bukan seperti itu maksudnya, dan bukan seperti itu apa yang terjadi dengan paket-paket wisata religi yang ditawarkan biro-biro perjalanan wisata. Dan makna yang mendalam dari frase wisata religi- ipun akhirnya tereduksi dan pada akhirnya menjadi sekedar propaganda marketing dalam dunia kepariwisataan semata. Sungguh patut disayangkan.

Demikian juga dengan istilah lain yang tengah marak dipopulerkan, yaitu wisata pendidikan. Pendidikan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah proses perubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dan bila digabungkan akan bermakna : pergi bersama ke suatu tempat untuk menjalani suatu proses yang akan mebawa perubahan sikap dan tata laku demi mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Bertolak dari makna kata ini, tentu sah-sah saja suatu paket wisata pendidikan terbentuk. Namun, lagi-lagi dalam konteks kenyataan, kata wisata memang lebih berkonotasi pada intepretasi bersenang-senang. Sementara pendidikan lebih berdekatan makna dengan kata proses yang bukan kejadian Sim salabim semata, tapi menuntut perjuangan dan kerja keras untuk mencapai tujuannya yaitu demi mendewasakan manusia. Dua hal yang sebenarnya memiliki dua sisi yang saling berbenturan keras.

Bila sebuah perjuangan dalam hakekat pendidikan ditunangkan dengan kesenangan yang setara dengan makna piknik, maka bobot dan nilai perjuangannya akan sangat mungkin tereduksi secara dalam dan bersifat struktural bahkan sistemik. Pendidikan akan menjadi hal yang beraroma instan dengan kesenangan semata yang menjadi tumpuannya.

Lantas, bila rezim suatu bangsa mengamini dan bahkan mendorong terjadinya eliminsi nilai dan karakter pendidikan, maka bukankah hal tersebut setara dengan pengaturan penghancuran generasi bangsa secara sistemik dan legal? Dan lantas siapa yang memegang amanah mencerdaskan kehidupan bangsa bila urat saraf pendidikan dikendalikan oleh biro-biro wisata yang berselingkuh dengan pemerintah dan mungkin juga sekolah! Mari kita buka lipatan-lipatan logika kita untuk berpikir dengan lebih jernih tentang masa depan rumah besar kita, Indonesia.

Pare, 29 Juli 2011

 

 

    
 

    


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: