Oleh: uun nurcahyanti | Juli 28, 2011

Usia Kita Yang Hilang


OPINI | 19 August 2010 | 11:11 125 1 1 dari 1 Kompasianer menilai Inspiratif

Secara teoritis, dalam tahap perkembangan seorang individu, usia produktif yang ideal adalah antara 18 hingga 25 tahun. Pada usia inilah seseorang memasuki usia top performance-nya. Mari kita lihat beberapa fakta yang tersebar disekitar kita, pesepabola profesional mengalami masa keemasannya pada usia ini. Lionel Messi dari klub Barcelona dan Ronaldo dari klub Real Madrid adalah dua contoh profesional di dunia olahraga yang tengah mengalami masa puncak karir dan mereka belum berusia 25 tahun. Didunia bisnis kita mengenal Farah Gray yang memulai bisnis retail dalam usia 14 tahun dan menjadi miliarder beberapa tahun setelahnya. Dunia juga mengenal Bill Gates dengan Microsoft Word yang memberi kontribusi luar biasa dalam bidang komputerisasi. Bill Gates mempersembahkan karya luar bisa ini dalam usia 22 tahun!

Daftar ini akan semakin panjang bila kita menegok ke belakang tentang sejarah orang-orang muda yang senantiasa menjadi inspirator , pendorong dan juga pelaku terjadinya banyak perubahan besar di dunia. Dan ini adalah bukti bahwa usia produktif ideal kurang lebih ada pada range 18 sampai 25 tahun. Diatas usia ini sudah dianggap usia matang dan pemantapan kontribusi diri.

Namun dalam budaya kerja di Indonesia kita bisa melihat bahwa hal ini justru merupakan hal yang tidak biasa terjadi. Rata-rata orang Indonesia mencapai puncak karir alias berada pada usia produktif pada usia 34 hingga 42 tahun.

Kondisi ini tentu menjadi bisa jadi kita anggap wajar karena kita biasanya mengawali karir pada usia 25 tahun yang merupakan angka rata-rata kita dalam menyelesaikan kuliah dan memasuki dunia kerja. Namun bila kita lihat pada sudut pandang yang sedikit berbeda maka kita akan meihat bahwa ada range waktu yang hilang karena usia produktif kita dua kali lipat usia produktif ideal. Dan hal ini mau tidak mau menggiring kita untuk melihatnya sebagai persoalan yang cukup mendasar karena ternyata kita terlambat lebih dari satu dekade dalam memasuki usia produktif!

Bila kita tarik komparasinya maka sebenarnya hidup kebanyakan orang Indonesia baru dimulai pada usia 16 tahun dimana biasanya kita memasuki dunia SMA. Dan pertanyaan mendasarnya adalah lantas kemana 16 tahun awal itu karena kita ternyata memiliki masa 16 tahun yang hilang atau masa abu-abu dimana kita semua melaluinya tapi tak menyadarinya.

Kita semua tentu bersepakat bahwa usia 0 sampai 16 tahun adalah usia penanaman konsepsi hidup dan peletakkan pondasi karakter diri. Dan bila masa ini terlewati tanpa kesadaran penuh berarti ada kesalahan mendasar dalam konsep pendidikan dan pengasuhan kita,terutama pendidikan dan pengasuhan anak.

Bagaimanapun kita harus berbesar hati mengakui bahwa perhatian kita terhadap pendidikan anak usia dini baru berkembang sepuluh tahun terakhir ini. Dan gerakan untuk memaksimalkan potensi anak belum menjadi suatu gerakan masif yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dan menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Bahkan,menurut Ayah Irwan Rinaldi,seorang pemerhati dan tokoh fathering Indonesia, Indonesia merupakan salah satu fatherless country yaitu negara yang banyak memproduksi tokoh ayah tapi kekurangan peran ayah. Sementara pengasuhan dan pendidikan anak adalah tanggung jawab dan kewajiban orangtua yaitu ayah dan bunda,bukan hanya bunda semata. Secara lebih luas hal ini membawa makna bahwa pendidikan dan pengasuhan anak bangsa adalah tanggung jawab dan kewajiban laki-laki dan perempuan yang lebih dewasa dari mereka. Artinya,semua komponen masyarakat memang memiliki tanggung jawab dan kewajiban dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Bagaimanapun, lingkungan dan tempat bertumbuh anak bukan sebatas pagar rumahnya saja, tapi juga lingkungan yang mengitarinya juga tempat-tempat yang suatu saat nanti hendak ditujunya.

Bila proses pendidikan dan pengasuhan anak ini tidak maksimal alias ada step yang terlewatkan maka hal ini akan menimbulkan kekosongan emosi dan konsepsi pada anak. Anak dalam usia dini adalah pembelajar yang hebat,mereka belajar dengan melihat,mendengar dan mempraktekkan atau mencoba-coba. Mereka adalah peniru-peniru yang memiliki kecepatan dan keakuratan luar biasa. Apapun dan siapapun bisa menjadi guru bagi tunas-tunas bangsa ini tanpa penolakan!

Anak memang seperti spons; menyerap dan merasakan apapun. Mereka belum memiliki konsep dan belum memiliki fitur-fitur filter,sehingga pendidikan dan pengasuhan anak adalah penanaman konsepsi dan tata diri atau pembentukkan karakter pribadi. Bila anak memiliki konsep diri dan karakter pribadi yang kuat maka dia akan mampu bergerak dan menatah kemampuannya sesuai dengan keunikkan dan keinginannya.

Dan bila seseorang telah bergerak sesuai dengan keinginannya maka dia pasti akan lebih cepat mewujudkan mimpi-mimpinya, dan itu artinya setiap ruang waktu adalah aset untuk terus berkembang dan berkarya sehingga tak ada lagi tapak-tapak waktu yang tak tersadari alias hilang. Semoga kita mampu memotong masalah generasi ini dengan kesadaran bahwa ada mata kanak-kanak yang memandang kita sebagai figur yang bisa ditiru,ada telinga kanak-kanak yang tajam dan siap menelan setiap kata yang keluar dari mulut kita untuk dijadikan kekayaan kosakata mereka dan kesadaran yang dalam bahwa setiap kita adalah kitab bagi orang lain.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: