Oleh: uun nurcahyanti | Juli 28, 2011

Ayah


FIKSI | 20 August 2010 | 02:49 76 1 Nihil

Sewaktu kecil aku berpikir bahwa ibulah yang paling berharga
Karena aku tumbuh dan lahir dari rahim ibu

Pun tanpa benih ayah aku tidak akan ada

Ku tak pernah berpikir lebih dalam tentang ayah
Apalagi berlaku sangat baik padanya
: Ku butuh Ayah hanya saat uang sakuku tandas

Namun…
Saat ku tergolek berjibaku dengan sakitku
Pelukan Ayah kuatkan hatiku
Butir-butir keberanianku yang meluruh pun
Kembali mengeras
Keputusasaanku pupus
Saat tangan kokohnya mengelus rambutku

Airmataku urung luruh Saat kesadaranku tumbuh

Bahwa…
Ayah adalah sumber inspirasiku
Pengaya warna-warna kehidupanku

Tanpa pelukannya nan kukuh
Tak kan terbangun mental bajaku

Tanpa elusan tangannya nan lembut tapi kukuh
Tak kan terbentuk jiwa sepenuh keyakinanku kini

Ayah…
Mungkin memang terlambat bagi anakmu ini
Untuk pahami sulaman-sulaman peranmu

Andai ku mampu memutar waktu

Ku pastikan ku butuh lebih banyak timanganmu
Tuk tuntaskan hausku akan sinarmu

Pare,5 juni 2010

Tergores rindu untuk Bapak dan Ayah Irwan Rinaldi


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: