Oleh: uun nurcahyanti | Juli 27, 2011

Perkenalan Hakim, Ken..


Sehabis paskah kemarin anggota tim baru kita, Hakim, berkenalan, Ken. Ia menceritakan siapa dirinya, perjalanan hidup dan pergulatan yang juga cita-cita dan mimpinya.
Masa lalu adalah jejak sejarah kita. Bukan begitu, Ken? Suatu masa yang tertinggal. Masa yang telah kita lewati, yang mungkin nantinya_tanpa kita sadari_menjadi bagian yang melejitkan atau bahkan menjadi batu penghalang kita untuk maju.
Kau tahu kan, Ken, kekerasan adalah masalah khas keluarga-keluarga di Indonesia. Sejak zaman aku kecil hingga 37 tahun kemudian, ternyata kekerasan masih menjadi bagian dari perjalanan tumbuh kembang anak-anak Indonesia. Makanya mental manusia-manusia pemilik negeri besar ini rapuh, traumatis,oportunis dan labil. Mengapa? Karena sejak kecil kita didekatkan pada kehampaan, penolakan, kemarahan, kesadisan dan dendam!
Duh, Ken.. betapa dipanggung kehidupan masa kanak-kanak kita, kita dipeluk begitu banyak keperihan yang tak terkatakan. Setiap inci tubuh kita, bahkan, tersimpan cerita duka yang sanggup melelehkan hati…
Cerita Hakim adalah satu hal yang mewakili berjuta cerita duka yang bertebaran di manik-manik sejarah negeri ‘Mutu Manikam’ ini. Masa kecil Hakim yang penuh bau kekerasan, Ken.
Ketidakpatuhan dan pendapat pribadi dijawab dengan hardikan dan tamparan. Cacian adalah hal yang biasa didengar. Sangat biasa. Tamparan dan pukulan adalah bentuk hukuman fisik yang tidak lagi terasa asing. Sangat akrab, bahkan.
Bagiku, Ken, hal ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ku juga mengalaminya. Bedanya mungkin ada pada penerimaannya. Bagi Hakim, hal ini menciutkan segala harga dirinya sehingga dia menjadi seorang individu yang sangat penakut dan pendiam_apapun, Ken, kekerasan dan penindasan kan menyusutkan harga diri kita, menanggalkannya sekelupas demi sekelupas dan meninggalkan rasa ngilu. Rasa ngilu yang tak terbayangkan!
Sementara aku tidak, Ken. Kekerasan demi kekerasan itu menorehkan dendam. Kesakitan karena terkelupasnya harga diriku selapis demi selapis itu malah bagai cambuk yang membuat kekuatan lain tumbuh liar tanpa kendali. Ku dibentuk untuk menjadi seorang pemberontak, Ken. Dan..musuh utamanya adalah orangtuaku dan segala hal yang menentangku..!!
Kekerasan fisik yang paling sadis padaku hanya sekedar dipukuli pakai gagang sapu, sapu lidi atau dingklik saja. Hal yang sungguh tidak seberapa!
Ah, Ken, kini ku malu karena pernah merasa menjadi orang yang paling menderita hanya karena penganiayaan kecil seperti itu…penganiayaan yang sungguh tidak seberapa bila dibandingkan dengan pengalaman jutaan anak-anak lain di negeri gemah ripah loh jinawi ini, termasuk apa yang dialami Hakim kecil, Ken.
Kata Hakim, Ken, dia pernah disalib ayahnya hanya karena keasyikan bermain sehingga lupa waktu dan telat pulang. Dia disalib dan diikat di depan rumahnya! Di depan rumahnya, Ken.
Duh, Ken…hatiku meleleh, air mataku bahkan urung menggeliat…Ku marah, Ken. Ku sungguh tak bisa menerima penistaan harga diri yang semacam itu. Apalagi dilakukan oleh orang-orang yang di telapak kakinya_kata Tuhan_adalah surga bagi kita, anak-anak mereka…
Ku tak bisa membayangkan betapa besar rasa malu yang Hakim tanggungkan. Disalib di depan rumah…dibiarkan seharian dan bercumbu dengan sinar bagaskara yang pasti menyengat kulit kecilnya, membakar harga dirinya. Tuntas!
Andai aku yang mengalami itu, aku bisa jadi pembunuh, Ken.
Selain itu, Ken, dia dipukuli dengan tali timba. Kamu tau tali timba kan, Ken? Duuh…ku tak sanggup membayangkan perihnya kulit bocah kecil itu menerima pukulan benda berat dengan kekuatan tangan orang dewasa menggerusi tubuh pada anak yang masih butuh dipeluk bundanya itu…Duh, Ken…
Kata Hakim, akibat dari pukulan itu bajunya melekat di kulitnya, lengket dengan darah dan peluhnya…
Sekujur tubuhku ngilu, Ken. Rasanya ku bisa merabai luka fisiknya, luka hatinya. Hancur banget nuraniku membayangkannya…tapi ku tahu bagimu hal ini tidak luar biasa. Apapun, kekerasan memang sudah mendarahdaging dalam kehidupan kanak-kanak kita. Bukan hanya orang yang tidak berpendidikan yang melakukannya, para orangtua yang memiliki wawasan dan wacana kependidikan yang cukup juga acapkali melakukannya. Mungkin aku saja yang terlalu perasa ya Ken…
Ku berharap suatu hari nanti kita bisa memberikan wacana dan aksi untuk menghentikan berbagai macam kekerasan pada anak. Bukankah pada merekalah nantinya tinta sejarah bangsa ini dituliskan?
Ken, Abraham Lincoln-pun mengalami penganiayaan dimasa kanak-kanaknya. Oprah Winfrey mengalami pelecehan seksual pada saat kuncupnya tengah mekar. Dan yang melakukannya adalah anggota keluarganya sendiri.
Memang kejadian pahit masa kanak-kanak itu tidak menenggelamkan mereka dan masa depannya. Dan memang penderitaan tidak seharusnya melemahkan kemanusiaan kita. Tapi seberapa besar kemungkinannya? Hakim yang luar biasa masih terpendam lumpur waktu, Ken.. dan entah kapan kecemerlangannya muncul.
Aku juga baru tercerahkan justru ketika sang Pemilik Hidup mengambil sebagiasn sebagian fungsi tubuhku. Saat ku terbenam di dalam sumur tanpa dasar, disaat itu ku baru tercahayakan, Ken…sementara umur tak mau menunggu, bergerak harmonis merenangi masa.
Namun, setidaknya samudra takdir tidak merenggut seluruh kapasitas waktuku, Ken. Ku berhasil melintasi palung itu. Berputar mengikuti arus hingga ku temukan kembali pantaiku itu, dan sekarang ku telah berdiri di hadapanmu, bergandengan tangan dengan banyak sahabat dan saling memberikan cahaya…
Tapi ada berapa banyak anak-anak lain yang bernasib seberuntung aku, Ken..? Siapa yang senantiasa siap sedia kala tangan-tangan kecil itu menengadah meminta pertolongan…? Siapa yang kan terus menjadi tempat mereka bersandar kala bimbang dan takut mendera? Siapa yang memandang mereka dengan penuh pengertian dan kasih saying kala amarah mereka memuncak? Pertanyaan bodoh yang mungkin tak perlu di cari jawabannya, Ken..
Namun, kita harus tetap ber-azzam agar anak-anak Indonesia masa kini dan nanti harus bernasib lebih baik daripada kita, Ken…


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: