Oleh: uun nurcahyanti | Juli 27, 2011

Mutiara Hikmah Dari Neno Warisman


by Uun Nurcahyanti on Tuesday, October 19, 2010 at 2:10am

Hari minggu kemarin, 17 Oktober 2010, saya berkesempatan untuk mengikuti seminar dari bunda Neno Warisman di hotel Surya, Pare. Banyak kata yang menyentil ruang kesadaran saya.Satu diantaranya adalah data tentang angka pengguguran kandungan yang dilakukan oleh para calon ibu yang hamil diluar nikah yaitu berkisar 1,5-2 juta per tahun! Mungkin ada sebagian dari kita yang tidak terhenyak dengan angka ini, tapi bagi saya yang menjadi satu diantara orang-orang yang sangat takjub dengan angka ini, benar-benar dibuat terperangah. sungguh suatu fenomena yang luar biasa meski saya pribadi menyadari bahwa hal ini memang sangat mungkin dan sangat bisa terjadi.

Data lain yang mengiringi terkesiapnya hati kebanyakan peserta ,yang 85%-nya adalah ibu-ibu dan remaja putri, adalah tentang pornografi.Prosentase anak yang kecanduan pornografi mulai dari kelas tiga SD sampai kelas tiga SMU adalah 90 %!

Kondisi ini memang tidak akan membuat banyak orang serta merta heboh karena tata nilai kita memang banyak yang bergeser terutama tentang tata nilai diri dan tata nilai lingkungan yang cenderung membentuk budaya permisif yang kental. Apalagi peran media elektronik yang sangat gampang di akses begitu besarnya dalam membentuk pola pikir dan pola hidup serta gaya hidup para pemirsanya.

Hal yang penting lainnya dari angka pengguguran kandungan ini, namun masih belum tersentuh, adalah bahwa ternyata trauma-trauma psikologis yang mengiringi kondisi tersebut ternyata sangat diabaikan.Baik oleh para perempuan itu sendiri dan juga oleh para laki-laki pendampingnya. Trauma aborsi ini berkemampuan untuk terus dibawa seumur hidup si pelaku aborsi. Mereka bisa mengalami kekosongan yang tak berkesudahan atau perasaan bersalah yang tak termaafkan, yang akhirnya membawa mereka pada pengabaian dirinya sendiri dan lingkungannya. Bisa jadi mereka akan menjadi perempuan yang super sensitif, atau menjadi orang yang bertipikal sangat cuek.

Andai para perempuan pelaku aborsi yang menyimpan trauma tanpa terasakan ini suatu saat menjalani hidup normalnya sebagai ibu yang notabene adalah pendidik utama dan pertama bagi anak,lantas generasi macam apa yang kira-kira akan mereka cetak?

Sementara..sadar atau tidak, mau atau tidak, trauma itu pasti menjadi bagian dari perbuatan aborsi ini.Bagaimanapun perempuan adalah pemilik rahim dan janin yang pernah tumbuh disana adalah bagian yang tak terpisahkan dari tubuh keperempuanannya tersebut.Kondisi trauma ini memang sangat sering diabaikan karena dianggap hal yang wajar karena toh tidak aborsi saja perempuan sangat rentan tertekan alias stress.

Hal inilah yang seyogyanya perlu kita cermati..tanpa melakukan aborsi saja perempuan gampang tertekan dan trauma,apalagi bila ia melakukan aborsi.Meskipun itu adalah pilihan pribadi,hak pribadi dan tanggungjawab pribadi,namun tak ada salahnya bila kita berpikir lebih luas,karena setiap kali kita bicara hak,tentu terdapat kewajiban yang terkandung didalamnya.

Bicara tentang perempuan tentu tak lepas dari tanggungjawab regenerasi suatu komunitas.Bicara tentang kualitas komunitas, tentu tak lapas dari pendidikan.

Dalam segala hal pasti tersimpan pelajaran dan hikmah yang banyak dan bisa dipandang dari sisi mana pun..

Semoga selalu ada pelajaran dari setiap silaturahmi yang kita tautkan..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: