Oleh: uun nurcahyanti | Juli 26, 2011

Mengejar Gengsi Sekolah


Oleh : Uun Nurcahyanti

19-Aug-2009, 06:28:12 WIB – [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia – Seorang sahabat menceritakan pengalaman luar biasa saat beliau dimintai tolong untuk membangun sistem bahasa di lembaga yang pernah membesarkan beliau.

Suatu pagi setelah sholat subuh beliau didatangi oleh sekretaris yayasan dan disodori map yang ternyata berisi soal UNAS! Permintaan yang mengiringi map tersebut adalah: membuat kunci jawaban untuk mata pelajaran yang tengah dibimbingnya. Meski marah dan terlecehkan harga dirinya, tugas tersebut dikerjakan sahabat saya ini dengan sebaik mungkin dan setelah selesai dikembalikannya map tersebut sembari memberi penilaian keras pada yayasan terhormat dan kebanggaannya yang ternyata sama sekali tak lagi punya kebanggaan dan kehormatan atas nama pendidikan. Betapa kebanggaan beliau sebagai alumni terlukai oleh keinginan yayasan agar tetap mendapat predikat terbaik di wilayahnya.

Sebuah fenomena yang sebenarnya seringkali kita baca di kolom-kolom opini dan berita di surat kabar dan kita nyaris tidak pernah mendengar tawaran solusi untuk masalah ini. Anehnya, para pemerhati pendidikan yang biasanya kritis seakan-akan tak bernyali untuk menghentikan adu gengsi yang tidak jelas wujudnya tersebut. Alasan yang seringkali terdengar adalah pertimbangan keberlangsungan lembaga pendidikan yang bersangkutan. Bila sekolah tak berprestasi, maka sekolah tersebut akan kesulitan mencari murid dan itu artinya ongkos sosial yang akan ditanggung jelas sangat mahal.

Kondisi ini yang pada akhirnya membuat praktik-praktik asusila, yaitu memanipulasi kompetensi siswa, menjadi rahasia umum yang bahkan dimaklumi oleh para penyelenggara pendidikan. Sungguh kondisi yang ironis karena tumor ganas tengah menggerogoti wilayah utama institusi pembentuk karakter bangsa; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bila kondisi ini dibiarkan tanpa koreksi konstruktif yang tajam dan tindakan ekstrim yang tepat layaknya penanganan pada penyakit tumor ganas, maka penyakit ini justru berpotensi menghisap habis sari-sari kebajikan dan kebijakan yang di miliki oleh generasi masa depan Negeri Pertiwi ini.

Tolok ukur keberhasilan pendidikan adalah peningkatan kemampuan siswa secara komprehensif dan berkesinambungan. Dan untuk itu pengambilan nilai tidak mungkin bisa dilakukan hanya sekali saja yaitu pada akhir tahun belajar atau pada akhir program yang bersangkutan. Saat seorang siswa duduk di bangku SD maka dia menghabiskan masa sekolah dasarnya selama enam tahun dan itu setara dengan dua ribu hari lebih! Dalam masa dua ribu hari tentunya banyak mata pelajaran yang sudah direngkuhnya,dan banyak nilai hidup yang telah diikatnya. Namun semua itu diabaikan dengan beberapa ujian saja yang tentu tidak mewakili seluruh kompetensi dan potensi yang telah dirajut siswa sejak dari awal pembelajarannya.

Celakanya lagi, kondisi yang tak masuk di akal ini masih ditimpahi acara adu gengsi antar penyelenggara pendidikan agar siswa-siswanya bisa lolos 100 persen. Bagai jatuh tertimpa tangga dan kerutuhan genting! Lantas, apakah balapan gengsi ini masih juga belum mengusik kita?


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: