Oleh: uun nurcahyanti | Juli 26, 2011

Mendesain Ulang Kurikulum Mandiri


Oleh : Uun Nurcahyanti | 14-Aug-2009, 13:51:40 WIB

KabarIndonesia – Membaca berita tentang hasil tryout UNAS ataupun hasil UNAS terasa sangat menyesakkan.Betapa tidak, UNAS yang sudah berjalan bertahun-tahun dan menjadi barometer keberhasilan metode pendidikan pada seluruh jenjang pendidikan mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas itu ternyata masih juga menyisakan luka di benak para pembelajar kita.Yaitu mata pelajaran yang menjadi momok bukan mata pelajaran yang menantang dan mendorong keingintahuan yang luar biasa dari para pembelajar kita.

Sementara pendidikan secara kakikat adalah proses fundamental yang melengkapi kehidupan individual seorang manusia. Potensi-potensi strategis dan luar biasa yang melekat pada diri manusia tidaklah mungkin berkembang secara pesat sejalan dengan waktu tanpa adanya stimulasi sistemik dan berkesinambungan yang bernama pendidikan.

Dari sini cukup jelas bahwa tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab kolektif antara para individu sebagai pembelajar ataupun penyelenggara pendidikan, masyarakat, lembaga pendidikan dan pemerintah. Namun ketika melihat kondisi pendidikan nasional saat ini yang lebih menonjolkan nilai-nilai mata pelajaran bukan nilai-nilai hidup yang terkandung dalam setiap mata pelajaran, hal ini tentunya menjadi PR bersama yang perlu pengkajian secara mendalam dari semua pihak yang peduli dengan pendidikan anak bangsa.

Sebuah sistem pendidikan yang hanya mementingkan nilai mata pelajaran bukan butir-butir hahekat dari mata pelajaran tersebut akan menghasilkan pembelajar pasif yang berkarakter seperti mesin yang hanya siap dijalankan bukan mencipta. Sementara manusia dilengkapi dengan akal budi, hati nurani dan bahasa yang memungkinkan dia menjadi penghasil karya mutakhir yang fenomenal. Bila pada akhirnya pendidikan di sekolah-sekolah kita hanya menonjolkan pengejaran nilai semata tanpa ada pematangan proses untuk mendapatkan nilai-nilai tersebut, maka Pendidikan Nasional kita sesungguhnya benar-benar ada di ambang kehancurannya.

Lantas dimana sebenarnya peran negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang di amanahkan Undang-Undang Dasar 1945 bila negara sendiri belum juga gelisah dengan kondisi yang tidak jelas seperti ini? Kurikulum Nasional kita yang sebenarnya cemerlang itu tentunya akan sangat sia-sia bila tidak didasarkan karakter dasar dimana konsep pendidikan itu di selenggarakan. Karena bagaimanapun juga tiap-tiap wilayah pendidikan punya tradisi dan keunikan masing-masing yang tidak serta merta diseragamkan dengan barometer nasional saja.

Artinya desain kurikulum pendidikan seyogyanya tidak mengabaikan tradisi-tradisi unik dan target-target spesifik yang dimiliki oleh para penyelenggara pendidikan di wilayahnya masing-masing. Negara seharusnya mengawal dan mendorong bertumbuhnya kurikulum mandiri agar setiap komponen yang terlibat dalm sistem pendidikan menyadari dan mampu bertanggung jawab terhadap denyut pendidikan yang diselenggarakannya. Bahwa pendidikan adalah kesemestaan.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: