Oleh: uun nurcahyanti | Juli 24, 2011

Ruang Kelas Kehidupan


by Uun Nurcahyanti on Friday, June 24, 2011 at 10:43pm

Ada isu khas yang melingkupi kita pada bulan-bulan seperti ini, yaitu Ujian Nasional. Sebuah pilihan sistem ujian yang lebih banyak dicaci maki daripada diterima dengan lapang hati.Dan pembicaraan tentang fenomena ini senantiasa menyeret kita untuk membongkar-bongkar borok yang dimiliki oleh wilayah dunia perrsekolahan dan sistem pendidikan nasional di negara Indonesia tercinta ini.

Tapi, mari kita lupakan UAN dengan segala tetek bengek permasalahan di dalamnya itu untuk melihat sebuah fenomena lain yang juga tengah dimunculkan sebagai suatu konsep baru dalam dunia pendidikan nasional. Dalam Hari Pendidikan Nasional lalu, presiden SBY mencanangkan tentang pendidikan karakter.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah : Mengapa pendidikan karakter dipilih sebagai isu besar dalam dunia pendidikan kita?

Hal ini tentu menimbulkan berbagai asumsi untuk meraba akar masalah yang sebenarnya tengah dihadapi oleh bangsa besar ini. Ada yang berasumsi bahwa ini adalah bagian dari desain besar rezim pencitraan yang saat ini sedang berkuasa, ada juga yang secara kritis berasumsi bahwa bangsa ini tengah berada dalam krisis identitas yang sangat fatal sehingga perlu dan sangat mendesak untuk diselamatkan, dan ada juga kelompok yang memilih untuk taat pada asumsi melihat dan mendengar saja karena perintah pimpinan adalah titah yang harus didukung dan dilaksanakan!

Namun, apapun asumsi publik terhadap tema hari pendidikan nasional kita, tentu kita bersepakat bahwa sebenarnya ada masalah serius yang tengah membelit bangsa besar Indonesia ini. dan tentu bila kita bicara tentang pendidikan, hal utama yang dilirik adalah sistem persekolahan nasional kita.

Guru dan sekolah

Dewi Utami Faizah, dalam bukunya yag berjudul Keindahan Belajar Dalam Perspektif Pedagogi, menyatakan bahwa sekolah kita ibarat suatu mesin yang menghasilkan produk industri, sehingga sekolah-sekolah kita bersifat mekanik dan secara otomatis muatan pengajarannya pun bersifat mekanik yang hanya dititik beratkan pada bahasa dan peruntutan logika mesin yang desainnya seragam dengan hasil sama karena memang seperti itulah tipikal suatu mesin.

Sistem yang seperti ini tentu saja menafikan keakuan dan anti perbedaan serta keunikan alias ketidakseragaman. Siswa ataupun guru yang unik, mandiri dan kreatif tidak mendapat tempat yang layak dan terhormat dalam sistem persekolahan yang seperti ini. Sehingga tampaknya menjadi logis bila pemerintah dari masa ke masa lebih sering memandang sebelah mata sekolah-sekolah non negeri, apalagi pendidikan luar sekolah atau pendidikan non formal.

Padahal, masih menurut beliau, sekolah adalah suatu organ hidup. Organ hidup bermakna suatu hal yang mampu menyerap dan menyalurkan energi, dan bahkan berpotensi untuk memusnahkan energi. Sekolah adalah tempat yang seperti itu, selayaknya semesta raya yang tetap bergerak dalam karakter statisnya.

Seorang guru bukanlah penjaga mesin tapi ibarat tukang kebun dimana derap kerjanya dimulai dari menyiapkan ladang penyemaian. Lantas, ia akan menabur benih dan menyiramnya serta memberinya pupuk agar akarnya tumbuh dan mampu menghujan ke dalam tanah, ia juga merawatnya hingga tumbuh daun dan batangnya, menyiangi rumput dan ilalang yang menghalangi pertumbuhannya. Hasil kerjanya akan terlihat beberapa waktu kemudian, Bila pohonnya berakar tunjang dan menghasilkan buah, maka waktunya untuk bertumbuh tentu akan lama hingga saat berbuah tiba. Bila pohonnya berakar serabut dan menghasilkan bunga, ia tidak tumbuh serta merta dan langsung mempersembahkan bunga. Tanaman perdu juga tetap butuh waktu untuk mempersembahkan sesuatu dari dirinya.

Artinya, pendidikan dan segala hasil yang nantinya akan dipersembahkan, adalah hasil dari suatu proses yang tidak instan. seorang tukang kebun tak selayaknya berpikir untuk menghasilkan suatu bunga secara instan, kecuali bila ia membeli bunga sintetis!

Bila guru mampu memahami konsep ini, tentu anak didik yang dihasilkan adalah hasil nyata dari persemaian yang sehat dan maksimal dan tentu hasilnya pun cenderung untuk maksimal juga. Pengakaran dalam konteks pendidikan adalah wilayah yang saat ini populer dengan jargon pendidikan karakter. Pengakaran yang baik dan kuat akan menghasilkan tanaman yang sehat dan kompak yang nantinya mampu mempersembahan keindahan dan hasil terbaiknya.Dan hal ini tentu memiliki konsekuensi logis yang harus ditanamkan pada jiwa setiap elemen yang mengharapkan Indonesia menjadi sebuah bangsa yang berkarakter bahwa mindset mekanik yang selama ini mengungkung sistem pendidikan nasional kita mesti diubah ke dalam mindset organik.

Guru, dimanapun ruang kelasnya dan seperti apapun bentuk ruang kelasnya, adalah penguasa kelas yang setiap gerak hati dan gerik tubuhnya menjadi panutan bagi siswa-siswanya. Karakter pengasuhan yang semakna dengan merawat dalam konteks tukang kebun, merupakan wilayah penting yang sangat tak boleh terabaikan. Guru adalah sumber energi bagi ruang kelas dan komunitas yang ada di dalamnya, sehingga guru harus mampu menguatkan karakter belajarnya sendiri tanpa jeda karena ia harus mampu menjadi pendamping diskusi dan menanamkan nilai kehidupan didalam sanubari para siswanya secara natural dengan keteladanannya.

Ruang kelas dan orangtua

Saat bicara tentang ruang kelas, maka asumsi yang terbangun adalah ruang-ruang kaku yang dahulu sering didiskripsikan kusam dan berdebu; namun kini seringkali berwarna-warni, wangi, dan adem, tapi angkuh. asumsi berikutnya yang muncul adalah bahwa ruang kelas adalah bagian dari bangunan sekolah yang didatangi pada saat jam belajar di sekolah saja.

Hal yang mungkin muncul sebagai pertanyaan besar adalah :

– Pada saat awal-awal masa kerasulan, apakah sudah ada tempat yang dinamakan sekolah?Padahal kegiatan belajar dan mengajar tentu sudah ada pada saat itu.

– Ketika para pahlawan bangsa berada di pembuangan atau penjara, adakah sekolah yang ada disekitar mereka sehingga membuat mereka tetap hebat dalam menjaga kedalaman pikirannya dan mampu menghasilkan karya-karya hebat?

Lantas, apakah sekolah dengan ruang-ruang kelasnya itu?

Menurut Agus Mustofa, dalam teori pembentukan alam semesta yang dikenal dengan nama teori big bang, saat alam semesta terbentuk dari suatu ledakan dahsyat, ada lima hal yang tercipta sekaligus yaitu : ruang, waktu, materi, energi dan informasi. Lima hal inilah yang merupakan kesemestaan alam raya, yang meliputi segala hal yang ada dalam alam semesta ini. Konteks kesemestaan ini tentu merupakan hal penting dalam pembelajaran manusia untuk mengenal lingkungan dan juga Tuhannya.

Kemudian, setelah penciptaan bumi maka ada fase yang memberi ruang bagi keberadaan manusia dimana manusia terlahir dari suatu proses yang berada di alam rahim yang secara eksklusif dan terhormat diberikan kepada makhluk yang bernama perempuan, dan selama kurang lebih sembilan bulan dalam rahim perempuan inilah proses hebat terbentuknya jmanusia berada. Rahim adalah benda organik yang merupakan persemaian benih seperti layaknya tanah bagi tukang kebun. Bagi tukang kebun, tanah adalah ruang belajar persemaian pertama bagi tanaman-tanamannya.Dan rahim adalah ruang belajar persemaian pertama bagi manusia. Tanaman yang semakin bertumbuh membutuhkan perawatan agar tetap hidup dengan sehat dan kuat. Manusia dalam tahap perkembangannya juga membutuhkan perawatan yang dilakukan dialam yang tidak sama dengan alam pertumbuhan pertamanya yaitu alam dunia. Dan tentu lebih spesifik lagi yaitu di ruang-ruang rumahnya.Ternyata ada banyak ruang selain ruang-ruang kelas di sekolah yang memiliki fungsi sama dan bahkan lebih dahsyat.

Ruang-ruang inilah yang sebenarnya lebih layak disebut sebagai ruang kelas karena memiliki organ hidup yang sarat makna dan pelajaran serta ilmu pengetahuan. Rahim adalah sekolah pertama bagi manusia, dan ibundanya adalah rektornya. Rumah adalah ruang kelas kedua bagi manusia dan ayahanda serta ibundanya adalah sang maha guru yang memiliki tuntutan karakter sebagai tukang kebun, bukan supervisor pada mesin produksi tertentu. Oleh karena itu, maka mau tak mau, siap tak siap, ruang-ruang kelas itu harus disiapkan dan para maha guru harus segera bergerak untuk memperbesar daya energinya.

Negara tanpa keteladanan

Keluarga adalah pilar-pilar utama bagi sebuah negara dan eksistensi suatu agama. Suatu negara akan rapuh bila pengakaran nilai yang seyogyanya dimulai dari wilayah ruang kelas utama manusia, yaitu rumah, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lebih celaka lagi bila rezim suatu negara melupakan penanaman ajaran-ajaran hidup milik khas bangsanya dan malah menjadikannya mata pelajaran yang bersifat mekanik dan tidak membumi.Bila negara tak cukup mampu melahirkan konsep pendidikan kesemestaan dalam ruang-ruang kelas dan sistem persekolahannya, maka adalah wajib hukumnya bagi para maha guru untuk mempersiapkan seluruh semesta raya sebagai ruang kelas. Ayah, bunda dan calon ayah bunda, suatu negara bisa saja krisis keteladanan. Dan bila negara dan jajaran pemimpinnya tak jua mampu mengajarkan hakekat keteladan, maka rakyat tak boleh tinggal diam.

Mari bergerak, para Maha Guru..Begawan kehidupan!


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: