Oleh: uun nurcahyanti | Juli 24, 2011

Posisi Lokalitas Dalam Globalitas


Berbicara tentang lokalitas dalam wacana globalitas bagi sebagian kita seakan seperti membicarakan hal yang berbau ndeso di tengah keriuhan kota metropolitan atau layaknya membicarakan cara melestarikan bumbu pecel di tengah mall saat kita tengah menyeruput secangkir capucino super nikmat sambil ditemani sepiring pizza di Pizza Hut bersama kolega kita yang asyik masuk dengan seduhan caffe latte-nya.

Janggal dan tidak menarik..

Saya mendapat kesan tersebut setelah melakukan beberapa perbincangan dengan rekan-rekan siswa atau pun dengan rekan-rekan muda yang saya temui tiga bulan terakhir ini, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Kesan seperti ini pun muncul di kalangan orangtua dan guru atau kebanyakan akademisi.

Kesan seperti tersebut tentu bukan kesan yang aneh tapi justru jamak tertabur di sekitar sekalian kita. Kita telah memasuki era globalisasi sebagai kelanjutan atau kalau boleh dikatakan sebagai konsekuensi logis dari era modern yang mengusung semangat dan sistem kapitalisasi. Dan kita semua tentu sepenuhnya mengerti bahwa kapitalisasi adalah perpanjangan tangan atau baju baru dari sistem kolonial. Andi Zulkarnaen, dalam salah satu edisi diskusi Rumah Anak Bangsa di bulan Agustus 2010, pernah mengistilahkannya sebagai kolonialisme yang cantik.

Era kolonialisme memang telah diberangus dan ditentang oleh masyarakat dunia, sehingga istilah kolonialisme yang cantik ini beliau lontarkan lantaran kita sangat gampang terpesona dengan segala hal yang tampilannya cantik. Sadar atau tidak, makhluk atau benda yang cantik memang lebih mudah dalam mengikat hati kita dan membuat kita jatuh hati padanya. Termasuk kolonialisme. Saat kolonialisme ini terbungkus baju nan indah dan cantik, maka takluklah kita sebagai individu yang bahkan tanpa harus ada perlawanan bersenjata.

Laksana gadis molek yang memasuki kamar terkunci yang merupakan wilayah pribadi kita. Pesonanya nan aduhai membuat kita tak berkutik tuk mengusirnya dari depan kamar suci kita itu. Kita bahkan dengan suka cita mempersilakannya masuk. Rayuan dan keindahannya mampu membuat hawa maksiat menjadi sewangi mawar surga.

Dan.. kita pun mau begitu saja melepas penutup aurat kita satu persatu dengan takzim, sepenuh rela, dan.. pasti tanpa perlawanan.

Meski hati kecil kita menjerit-jerit mengingatkan bahwa belum ada ikatan janji pada Sang Widhi..namun kecantikan dan kemolekan lejuk tubuh si gadis mampu membuat kita tak mengacuhkan jeritan itu..

Dan kita pun akhirnya rela untuk bulat-bulat bertelanjang dan menyerahkan segala harga diri kita pada ranah maksiat demi terengguknya kenikmatan itu!

Saat ini kita mungkin telah mengijinkan si gadis memasuki kamar pribadi kita dan mungkin kita pun telah mulai telanjang. Bagaimana pun saat ini kita tak dapat memungkiri bahwa batas antar negara telah begitu tipisnya.

Menurut Marendra Darwis, pengasuh Cafe Curhat yaitu forum untuk anak muda dan remaja untuk saling blak-blakan dalam membicarakan masalah-masalah pribadinya, ada sebuah pameo yang mengguntur di kalangan kaum muda kita saat ini yaitu seperti:gak gaul kalo HP kita tak ada gambar pornonya, gak gaul kalo belum lihat videonya Luna-Ariel-Cut Tari dan sebagainya..

Kondisi yang sepertinya mewakili harum semerbaknya kemaksiatan di ruang-ruang hidup kita, rata di berbagai kalangan. Media elektronik dan internet telah menjadi nafas hidup yang tak terpisahkan di era komunikasi dan tehnologi mutakhir ini. Segala hal mampu di akses tanpa batas dengan konsep unlimited dan un-filtered, sebanyak mungkin dan sebebas mungkin..jangan-jangan kita sudah mulai rela bertelanjang..

Kapitalisasi dan globalisasi adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Cantik atau tak cantik yang secara fisik menyelimuti, sebenarnya adalah suatu permainan asumsi. Namun kerelaan kita melepas konsep tata diri dan harga diri untuk akhirnya mempersilakan gadis cantik itu memasuki kamar suci kita adalah satu pilihan. Sungguh..murni suatu pilihan.

Integrasi nilai-nilai dasar kehidupan, konsepsi-konsepsi watak budaya serta keyakinan dan kepercayaan yang tertanam pada setiap kita lah yang pada akhirnya menentukan kesediaan kita untuk mengguk anggur kenikmatan itu.

Andai pada akhirnya kita memutuskan untuk tak mengindahkan keelokan lekuk biola sang gadis dengan pinggulnya yang seaduhai mimpi dan kepadatan buah dadanya yang ranum penuh kerlingan indahnya bintang gemintang, maka pastilah orang-orang di sekitar kita akan merendahkan dan menghina-dinakan kita karena ‘keputusan bodoh’ yang telah kita buat itu.

..Kucing kok nggak mau pindang..

Begitulah posisi lokalitas dalam globalitas menurut wacana saya, tanpa kearifan yang bijak dalam memandang posisi ini, maka globalitas hanya akan menghasilkan bangunan-bangunan indah yang berjudul lokalisasi dan menepikan lokalitas negara bangsa di pojok-pojok ruang sejarah manusia. Yang nantinya akan terlupakan dan tertutupi debu zaman, dan.. mungkin kan banyak anjing peradaban yang mengencinginya..

Dalam suatu diskusi hangat bertabur ilmu dengan pimpinan Pondok Pesantren Diniyyah Putri Padang Panjang tanggal 7 Januari 2011 lalu Ibunda Fauziah Fauzan El Muhammady, beliau mengatakan bahwa ada satu konsepsi pikir fundamental yang mendarah daging pada masyarakat Jepang,yaitu:

‘Bukan kamilah yang hebat, tapi nenek moyang kamilah yang hebat, yang berhasil menetapkan sebuah tata nilai yang sampai hari ini tetap kami aplikasikan’

Dan saat ini kita semua mahfum bahwa Jepang adalah salah satu negara maju di kawasan Asia

5 Februari 2011

Uun Nurcahyanti

(Disampaikan dalam Diskusi Rumah Anak Bangsa di Global E,

Sabtu, 5 Februari 2011)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: