Oleh: uun nurcahyanti | Juli 23, 2011

Sepotong Kenangan Ditepi Singkarak


Hari ini, 17 Desember 2011, adalah Jum’at kedua kami di Padang Panjang. Kami merencanakan berlibur ke Bukit Tinggi yang katanya merupakan pusat perekonomian di wilayah ini. Perjalanan ini merupakan perjalanan pertama kami menelusuri kawasan Bukit Barisan nan permai dan elok. Gunung Merapi dan Singgalang seakan teduh menatapi perjalanan kami ini. Singgalang memamerkan puncaknya yang tertutupi kabut tebal laksana salju. Khayalanku terbang ke film-film yang berseting pegunungan-pegunungan di Swiss dan Himalaya. (Suatu saat aku pasti kesana..) Sementara Merapi memamerkan warna jingga terangnya nan kukuh layaknya karang di puncak gunung! Duhai…betapa indah Indonesiaku..

Selepas dari Padang Panjang kami melewati wilayah yang bernama Aie Angek. Tiba-tiba, ada bangunan megah di atas bukit yang serta merta memerangkap ruang pandang kami. Namun kami tidak benar-benar yakin itu apa. Selintas, hanya selintas, terbaca : Aie Angek Cottage!

Waduh…apa artinya,pikirku. Hanya kata cottage yang kupahami.

Setelah dibuai oleh kemagisan alam Minangkabau hingga sepanjang jalan tak henti ku nyanyikan lagu favorit, Rayuan Pulau Kelapa, dan benar-benar merasakan ruh lagu tersebut, setengah jam berikutnya kami memasuki kota Bukit Tinggi yang anggun dan elegan. Akhirnya, bertemu jua kami dengan jam Gadang yang kesohor itu..

Acara berikutnya tentu berkagum-kagum dengan budaya dan kekayaan khas ranah Minang yang sangat berbeda dengan budaya kami yang dari tanah Jawa. Sungguh terasa benar bahwa bangsaku ini adalah bangsa yang sungguh kaya raya dan sangat ramah tamah.

Selanjutnya kami berpencar. Saya dan keluarga memilih berkereta kuda untuk berkeliling kota Bukit Tinggi. Dan hal yang tidak terduga adalah bahwa kami dibawa oleh sang kusir ke wilayah impian masa kecil saya yang bernama Ngarai Sihanouk! Ya…Ngarai Sihanouk adalah sebuah nama yang sangat lekat dalam benak kanak-kanak saya karena Ngarai sihanouk adalah nama yang sering muncul dalam bacan-bacaan yang dibawakan bapak untuk kami habiskan saat libur sekolah tiba.

Rasanya tak sabar hati ini untuk segera melihat kemegahan sang ngarai yang senantiasa digambarkan dengan gagah dengan segala kemegahan alamnya itu. Dan sesampainya kami di depan pagar Panorama, tempat untuk melihat kegagahan sang ngarai…saya benar-benar takjub akan keelokan dan kegagahan sang ngarai yang berdiri kukuh dan dingin laksana tebing purba itu. Terbayang di mata saya film Ice Age dengan binatang-binatang purbanya dan terbayang juga pulau Sulawesi. Dalam ruang bayang saya, pulau Sulawesi adalah pulau yang bertabur tebing…

Setelah berkunjung ke kebun binatang kota Bukit Tinggi yang bersih luar biasa dan mencicipi sate padang nan berbumbu rempah kental yang terasa aneh dilidah Jawa kami, kami kembali kearah Padang Panjang untuk menuju danau Singkarak. Sebuah nama yang beraroma misteri. Keingintahuan saya begitu membuncah!

Sebelum memasuki gerbang Padang Panjang, kami kembali melewati wilayah Aie Angek dari arah yang berlawanan. Saya yang saat itu satu mobil dengan Mr. Nafis, seorang kawan lama, secara bersamaan membaca papan nama pada rumah indah di atas bukit yang masih menyisakan tanya saat berangkat tadi pagi : Rumah Puisi Taufik Ismail!

“Wow…! Rumah Puisi Taufik Ismail…,” seru kami berdua penuh semangat seperti anak kecil yang terpukau pada cahaya kembang api di malam tahun baru.

“Kita harus mengunjungi tempat itu, Miss!” kata Nafis dengan mata berbinar. “Pasti Fis…!” jawab saya pasti merajut mimpi. Terkenang malam pementasan awal dimana kami membacakan puisi karya sastrawan besar Indonesia itu, dan saat ini kami bertemu dengan rumah inspirasinya. Tuhan.. kejutan-kejutan apalagi gerangan yang tengah Kau persiapkan untuk kami…?

Mobil kami terus meluncur membelah sore nan semburat jingga menuju danau Singkarak. Diperjalanan kami berhenti untuk membeli beberapa biji durian untuk bekal merajut kenangan ditepian danau Singkarak..

Awalnya, kami melihat danau tersebut dari atas bukit dan kami semua berteriak, “Wow….!”Danau itu akhirnya terpapar diruang pandang kami, namun masih butuh wktu untuk mencapai tepian danau yang luas dan berair coklat itu.

Setelah beberapa saat akhirnya kami sampai juga di tepi danau Singkarak yang terasa senyap dan dingin. Pohon-pohon kelapa yang tumbuh disekitar danau bagai tangan-tangan malaikat yang melambai-lambai dengan enggan. Saya dan Nafis berkecipak bermain air…

“Kalau ada orang bertanya apa yang kau lakukan di danau Singkarak, aku akan bilang bahwa aku telah merasakan airnya yang dingin menyentuhi kulitku! Ahai…ku sampai di danau Singkarak…” ujar Nafis bersemangat.

Saya diam merasai air yang membasahi kaki, sambil memahat abjad-abjad dalam benak saya untuk seuntai puisi. Tiba-tiba dari arah sebelah kiri terbang berarak burung-burung cantik yang berwarna putih. Cukup banyak. Bagai berkuntum-kuntum bunga mawar putih, terbang laksana gelombang. Duhai..cantik nian…!

Seperti inikah rasanya keindahan magis saat senja temaram turun ditingkahi beribu punai terbang pulang itu…? Ku pasti kan selalu ingat senja senyap nan indah ini…ditepi danau Singkarak..

 

Pare,23 Juli 2011.

Singkarak, tiba-tiba ku rindu..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: