Oleh: uun nurcahyanti | Juli 23, 2011

Pendidikan Media



 

“Kekerasan kembali terjadi dalam dunia pendidikan.
Kali ini terjadi di SMP N 7 Pasundan, Bandung. Pelaku kekerasan adalah seorang guru agama yang bernama Rosmidah dan kekerasan terjadi di depan siswa-siswa yang tengah belajar di dalam kelas..”

Kira-kira seperti itu prolog dari seorang reporter sebuah stasiun televisi swasta tentang berita menarik yang layak disajikan beberapa waktu lalu. Kita tentu tersentak dengan prolog tersebut. Keprihatinan kita terhadap kondisi dunia pendidikan dengan segera menggumpal kembali. Kata-kata reporter tersebut tentu bagai sihir yang serta merta membuka energi pikiran negatif tentang berita yang hendak disajikan dan biasanya secara spontan membentuk sikap antipatif para pemirsa terhadap pelaku kekerasan yang bahkan belum diutarakan. Sehingga tentu saja pemirsa tak sabar menunggu cerita kekerasan yang hendak disampaikan sang reporter.

Berita tersebut berlanjut dengan sebuah informasi bahwa Guru Rosmidah tersebut menggunakan korek api untuk menunjukkan kepada siswanya bahwa api di neraka jauh lebih panas daripada api di dunia. Uniknya, untuk meyakinkan siswa-siswanya tersebut bu guru ini menggunakan api beneran yang beliau sulutkan dari korek api. Celakanya, salah seorang siswa yang menjadi sukarelawan demonstrasi ini mengalami luka bakar di bagian pipinya. Dan hal ini yang dianggap sebagai sebuah bentuk kekerasan dalam dunia pendidikan oleh sang reporter.

Sebagai seorang pendidik, tentu saja penulis sempat terkejut dengan berita yang disajikan tersebut, namun begitu gambar siswa dengan luka bakar yang dialaminya tersebut ditampilkan, rasa terkejut itu sirna dan justru menimbulkan rasa prihatin yang dalam terhadap pilihan kata dan pewacanaan berita yang prolognya cukup heboh tersebut. Luka tersebut adalah luka yang tidak bisa dikatakan mewakili bentuk kekerasan dalam dunia pendidikan karena masih dalam taraf yang sangat wajar, meski harus diakui bahwa itu adalah suatu luka karena panasnya api.

Bila cara pandang kita terhadap masalah ini seperti cara pandang sang reporter, tentu saja kita akan mengutuk tindakan si guru. Namun bila kita memandang hal tersebut sebagai bentuk kreatifitas guru dalam mengajar, maka tentu hal tersebut menjadi terasa sangat berbeda. mungkin kita akan berteriak geram, “Tapi kan akibatnya ada, pipi siswanya terbakar!”

Iya benar, memang ada kondisi yang seperti itu, namun hal itu adalah suatu resiko bukan tindak kekerasan dalam dunia pendidikan karena tujuan Bu Guru Rosmida ini jelas dan tampaknya cukup terukur karena dilakukan kepada beberapa orang. Sayangnya, ada salah satu diantara beberapa sampel tersebut yang gagal dan siswa tersebut mengalami luka karena hal tersebut. Bu Guru ini sebenarnya tengah mengajar dengan metode pendekatan praktek bukan sekedar teori, mendekatkam siswa dengan ranah kenyataan sehingga imajinasi ataupun kesadaran siswa sebagai tujuan utama subjek pelajaran bisa tercapai. Memang ada kegagalan, namun bukankah segala hal memiliki resiko, yang lagi-lagi sayangnya, pendidikan resiko belum menjadi pola pendidikan yang membumi dalam sistem pendidikan di negeri tercinta ini.

Hal ini tentu harus dipertimbangkan sebagai sebuah wacana lain kepada pemirsa bukan hanya satu sudut pandang yaitu kekerasan dalam dunia pendidikan. Menurut seorang raja media dunia, Pitt Murdoch, media itu tidak sama dengan industri dan hal itu tentu membawa suatu tanggung jawab yang besar. Salah satu tanggung jawab itu adalah pencerahan dan pendidikan kesemestaan. Sayangnya banyak media massa di Indonesia yang masih juga belum memahami bentuk tanggung jawab ini, sehingga penggiringan asumsi publik tidak dilakukan sebagai wacana kependidikan tapi cenderung sebagai daya pikat media semata. Media berlomba-lomba menyajikan berita dan acara yang memikat tapi fungsi edukasi yang seharusnya menjadi ruh utama media malah cenderung dilupakan. Bukankah pemberitaan yang berimbang yang jauh dari justifikasi adalah nilai dasar suatu media.

 

kata hati seorang rakyat yang berharap
semua komponen bangsa menyadari tanggung jawab
tuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa

Uun Nurcahyanti


Renungan Kemerdekaan



Kemerdekaan adalah…
kemampuan untuk bertahan pada rasa sakit dan putus asa
demi mewujudkan impian ideal kita
Kemerdekaan berarti…
kesanggupan untuk mencumbui rasa letih tanpa henti
Kemerdekaan berarti…
berserah diri sepenuhnya pada kerja keras dan memberikan karya terbaik
tanpa menuntut pengakuan apalagi imbalan

kemerdekaan itu mahal harganya!!

Bulan Agustus selalu disambut dengan suka cita oleh Bangsa Indonesia. Hal yang sangat umum terjadi dan sudah menjadi tradisi tahunan. Dan karena dianggap sebagai suatu tradisi inilah maka nilai-nilai Kemerdekaan seakan-akan menguap entah kemana. Terasa hampa dari tahun ke tahun.

Sayangnya, kondisi ini justru seperti diberi peluang untuk berkembang karena para guru bangsa yang seharusnya berdiri pada barisan terdepan dalam memberi suri tauladan dalam memaknai dan mencitrakan kemerdekaan secara apik sebagai momentum dan aset nasional yang luar biasa berharga malah terjebak dengan kepentingan diluar jalur kepentingan nasional.

Kepentingan dan harga diri partai seakan lebih penting dan lebih berharga dari kepentingan nasional. Hal sepele yang bisa dijadikan contoh adalah sikap ibu Megawati yang lebih suka menghadiri upacara bendera di wilayah kepartaian daripada di wilayah Istana Negara yang notabene sebagai simbol kenegaraan. Penulis memang tidak memahami konteks politik yang pasti punya pertimbangan-pertimbangan logis yang dilolohkan ke benak masyarakat. Tapi pernahkah ada pertimbangan wilayah hati nurani rakyat?

Selama 64 tahun Indonesia merdeka, Indonesia pernah dipimpin oleh enam presiden saja. Enam orang luar biasa yang berkesempatan menjadi presiden sebuah negeri elok yang bernama Indonesia. Pernahkah terbersit satu kesadaran bahwa tanggung jawab kesuritauladan bangsa akan terus melekat meski kursi kepresidenan tak lagi terduduki? Presiden ataupun mantan presiden tidak terlalu penting bagi kami, rakyat Indonesia. Bukankah suatu karya untuk bangsa itu tak berbatas profesi dan jabatan? Bukankah dalam diri setiap manusia tertatahkan tugas ke-Tuhan-an sebagai pendidik, sebagai guru?Bukankah setiap kita adalah kitab yang pasti berkemampuan memberikan butir-butir pelajaran bagi orang lain?Bukankah kepentingan negara seyogyanya diletakkan di atas kepentingan pribadi dan golongan?

Lantas pelajaran apa yang sebenarnya ingin diberikan untuk kami, rakyat Indonesia,dalam merenungi dan memaknai Hari Kemerdekaan selama ini? Bagaimana kami bisa bangga pada bangsa ini dan mengerti bahwa kemerdekaan adalah milik seluruh komponen bangsa bila kami tak punya guru untuk mengajarkan bahwa nasionalisme memang ada dan bukan sekedar konsep? Bagaimana kami mampu mengenal cita rasa Indonesia bila kami tak punya pemandu yang dengan sabar melatih indra perasa kami?

Semoga seluruh komponen bangsa masih ingat bahwa rakyat Indonesia itu ada…

untuk para sahabat…
yang selalu menangis didepan saya saat berbincang tentang ke-Indonesia-an

Uun Nurcahyanti


 

 

 

 


SURGA DI BAWAH TELAPAK KAKI IBU



“Surga di bawah telapak kaki ibu” adalah sebuah kata bijak yang cukup populer dan sangat sering kita dengar. Umumnya orang menganggap bahwa kata-kata ini merupakan peringatan agar kita senantiasa ingat pada orang tua kita terutama ibu karena ibulah orang yang harus paling kita hormati. Beliau telah mengandung kita 9 bulan lebih dan mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan kita. Beliau juga meluangkan waktu untuk mendidik kita. Dan pasti banyak lagi alasan kenapa kita harus menghormati orangtua kita terutama ibu.

Namun pernahkah terbayang bahwa para ibu kita itu tidak serta merta menjadi ibu? Ada proses belajar yang mereka lalui agar surga berada di bawah telapak kakinya.

Ungkapan ini,menurut saya, justru lebih tepat untuk memberi peringatan kepada para calon ibu agar mereka senantiasa ingat bahwa surga itu ada di bawah telapak kakinya,bahwa perempuan adalah tapak kehidupan dimana padanya tertanam para calon generasi penerus asa. Pada diri perempuan ada wilayah tanggung jawab pendidikan anak yang besar karena merekalah sekolah pertama para penerus kehidupan ini. Meski tanggung jawab pendidikan anak memang ada di tangan orang tua tapi ibu adalah tempat pertama para penerus generasi ini bertumbuh. Rekam jejak pertama yang terangkum dalam kebeningan jiwa seorang anak adalah cetak biru ibunya. Bila seorang perempuan sebagai calon ibu tidak memiliki kompetensi keilmuan yang baik dengan kondisi psikologis yang mapan dan kemampuan manajemen diri yang elok, maka bagaimana bentuk surga yang hendak ditawarkan pada anak-anaknya kelak? (Sementara katanya surga ada di bawah telapak kaki ibu..).

Karena surga ada di bawah telapak kaki ibu, maka pada hakekatnya ibulah yang berperan besar untuk menentukan hitam putihnya kehidupan seorang anak. Selalu ada peran seorang ibu dalam kesuksesan seorang anak, sama halnya ada andil seorang ibu dalam kekelaman hidup seorang anak.

Kondisi ini cukup menjelaskan satu hal penting bahwa kecerdasan bagi perempuan adalah harga mati. Tanpa kecerdasan yang cukup dan kesadaran untuk terus menerus mengembangkan kualitas diri, maka kualitas surga yang natinya kita tawarkan pada anak-anak kita bukanlah surga yang senyata-nyatanya. Atau jangan-jangan kita malah kesulitan menawarkan surga bagi anak-anak kita..

Uun Nurcahyanti


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Waktu



DALAM MISTERI LINGKARAN WAKTU
KITA BERTUMBUH
DALAM LINGKARAN YANG SAMA
KITA AKHIRKAN SEGALA ASA

Dua hari yang lalu seorang sahabat kami berpulang ke rahmatullah. Hati terasa begitu teraduk-aduk, seluruh persendian terasa luluh lantak. Bukan hanya jejak kepedihan yang terasa pahit tertinggal tapi lebih pada keterpanaan atas segala misteri illahi yang dituangkan tuntas dalam ruang realita kami.

Pagi saat matahari tersenyum menyapa bumi, kami masih berbagi waktu bersama, mengikuti program asrama dalam lingkaran damai seperti biasanya. Saat matahari mulai meninggi, kami masih berjibaku bersama untuk menuntut ilmu dan mengikat makna-makna kehidupan lewat program-program yang kami tekuni masing-masing. selepas dhuhur kami masih menikmati makan siang bersama dengan iringan senda gurau dan berlauk keakraban..

Setengah jam setelahnya, betapa kami terlonjak dalam saat berita itu tiba..bahwa dirimu telah pergi, sahabat. Pergi tanpa pesan dan tak kan pernah kembali lagi..

Ah,,jam sepuluh tadi pagi kau masih bersemangat mengikuti pelajaran,menekuni materi-materi yang ditawarkan tutor kecil kita,Mr. Amy,tapi kini kau hanya terpejam diam…

Kelaam hatiku,kawan.
Kelam tak tertawarkan.

Selamat jalan, sahabat, segala kebaikan yang kau ajarkan kan menjadi ayat-ayat kehidupan yang senantiasa mengalir dalam ruang kenangan kami..

selamat jalan, sahabat kami
: Zaenal Arifin

Pare,30 Juli 2009

Uun Nurcahyanti


 

 

 

 

 

 

 

 

 


Sekolah bertaraf Internasional Olala



Seorang sahabat lama mengunjungi saya beberapa waktu yang lalu. Dia bercerita tentang pengalaman hidupnya saat melamar kerja dan hendak bergabung dengan salah satu rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) di Kediri. Setelah tes interview yang cukup panjang, sahabat saya ini dinyatakan diterima. Pengalamannya mengajar selama lebih dari tiga tahun di salah satu institusi yang sangat inovatif tentu menjadi amunisi yang tidak main-main. Pengalamannya membentuk lingkungan yang English area dan telah menelurkan ribuan alumni juga merupakan suatu bukti kualitas sahabat saya ini sebagai seorang pengajar yang luar biasa. Sehingga sangat bisa dimaklumi bila sahabat saya ini lolos seleksi sebagai salah satu tenaga pengajar disana.
Namun kebahagiaan ini ternyata tidak berlangsung lama. Saat tahun ajaran baru dimulai, sahabat saya ini tidak dipanggil untuk bergabung tapi justru dipanggil untuk menerima sebuah kenyataan pahit bahwa kelolosannya pada seleksi lalu digugurkan! Apa pasal? Karena sahabat saya yang luar biasa ini bergelar SE alias Sarjana Ekonomi. Pengalaman dan kemampuannya dalam bidang pengajaran dan ke-Bahasa Inggris-an sama sekali tidak menjadi pertimbangan karena asumsi dasar para perintis SBI tersebut adalah bahwa sarjana pendidikan jauh lebih kapabel dibandingkan sarjana-sarjana lain dalam hal pengajaran dan persekolahan meskipun dia minim pengalaman kerja.
Sebuah pilihan sikap yang sangat bagus dan berdasar tapi memiliki celah kelemahan yang mendasar. Kelemahan tersebut adalah kenyataan bahwa pendidikan adalah suatu universalitas dimana hakekat dasar manusia adalah mencelupkan diri dalam ranah pendidikan itu sendiri. Ini artinya adalah bahwa pendidikan adalah hakekat hidup dari setiap individu yang bernama manusia. Pendidikan adalah komponen aktif yang sangat signifikan dalam proses hidup manusia terutama demi peningkatan kualitas dirinya. Demikian juga dengan tugas kepengajaran. Kita seringkali tidak sadar bahwa dalam diri kita ada tugas kemanusiaan yang terukir didalam darah daging kita. Kita juga memiliki tugas ke- Tuhan-an yang mengalir deras dalam urat nadi kita. Mengajar adalah salah satu tugas ke-Tuhan-an yang mengalir dalam diri manusia.
Bagaimanapun, segala hal yang ada di alam semesta ini adalah kitab dan dari kitab tersebut kita belajar, meruncingkan kemampuan kita dan meluaskan kualitas kemanusiaan kita. Untuk mengikat setiap makna dari alam semesta itu kita butuh para begawan-begawan pendidikan_ yang tidak cukup dinilai berdasarkan titelnya. Memang, salah satu karakter khas hierarki dunia pendidikan kita saat ini adalah titel yang tersandang pada nama kita namun harus juga disadari bahwa pengalaman hidup dan petualangan-petualangan logika yang kita lalui tidak selalu terkumpul dengan serentetan titel.
Titel yang kita sandang memang suatu standar ukur untuk mengetahui level-level pendidikan formal telah kita lalui. Yang saya garis bawahi sekali disini adalah levelitas pendiikan formal,bukan pengalaman hidup dan juga bukan kualitas emosi dan mental yang kita punyai apalagi kualitas personal kita secara nyata,senyata-nyatanya! Bukannya saya apatis terhadap segala macam titel yang muncul saat ini, saya sangat mengapresiasi hal tersebut namun kualitas pendidikan yang saat ini adalah pendidikan dalam wacana hidup bukan pendidikan dalam kerangka hidup. Wajah dunia pendidkan kita masih sebatas teori-teori dalam teks book_ini masih lumayan sebenarnya_hal yang lebih parah adalah teori-teori itu pun kini mulai tereduksi dengan keinginan untuk sekedar naik jenjang dan mendapat titel! Lagi-lagi ujung-ujungnya adalah titel,bukan tanggung jawab atas tersandangnya suatu titel. Sungguh sangat ironis. Padahal kita ada bukan karena kita terlahirkan di bunia ini, kita ada karena kita berkarya. Tanpa karya nyata_meski kita bejubel titel_itu sama artinya kita masih dalam ketiadaan.
Bila kondisi ini menjadi patokan utama atau satu-satunya untuk rekruitmen tenaga pengajar, sungguh bisa dibayangkan bagaimana kualitas pendidikan Indonesia masa depan. Dunia pendidikan Indonesia butuh orang-orang yang peduli pada pengembangan sumber daya manusia Indonesia, yang berpihak pada kualitas pendidikan dan anak didik secara maksimal, dan yang memahami bahwa pendidikan adalah universalitas bukan eksklusifitas. Kita lebih butuh orang-orang yang mau bergerak dan berinovasi demi kemajuan para peserta didik seutuhnya_meski tak bertitel_daripada orang-orang yang bertitel namun tidak mampu bertanggung jawab terhadap jenjang-jenjang yang telah ditapakinya. Apapun, tanggung jawab haruslah lebih besar daripada penampilan.
Mari memberikan karya nyata terbaik demi kemajuan para anak bangsa.

Uun Nurcahyanti


 


Pendidikan dimata saya




KUALITAS PERADABAN SUATU BANGSA DITENTUKAN OLEH KUALITAS PIKIR SUMBER DAYA MANUSIANYA

KUALITAS PIKIR SUMBER DAYA MANUSIA SUATU BANGSA DITENTUKAN OLEH SISTEM PENDIDIKAN YANG DIANUT OLEH BANGSA YANG BERSANGKUTAN

Sahabat,manusia adalah makhluk yang dilengkapi dengan akal pikiran dan hati nurani__dua hal yang secara fungsional tidak dimiliki oleh dua makhluk hidup lainnya secara sistemik dan maksimal. Hal ini tentunya menjadi pertanyaan mendasar pertama:apa sih sebenarnya maksud Sang Pencipta memberikan perbedaan fungsional dan fisikal yang sedemikian ekstrem itu?
Hewan memiliki otak manusia juga memiliki otak, namun sistem otak manusia dan hewan ternyata berbeda. Milyaran sel otak yang dimiliki manusia bisa saling terhubung satu dengan lainnya, sehingga pada akhirnya membentuk suatu kondisi yang luar biasa, yaitu memunculkan berbagai karakter kinerja otak seperti: pemahaman, pengasosiasi an,pengkomparasian dan peneluran ide. Hal ini bisa jadi juga dimiliki juga oleh hewan tapi dalam kapasitas yang jauh lebih sederhana.
Karakter yang menonjol lainnya adalah kemampuan mempertimbangkan, menganalisa dan memutuskan. Berbeda dengan hewan yang cenderung memiliki karakter ini dalam kapasitas instingnya semata karena naluri untuk mempertahankan eksistensinya sebagai makhluk __bukan untuk menyadari eksistensinya lantas mengembangkan kapasitas dan potensi dirinya sebagai bentuk tanggung jawab atas penciptaannnya. Sementara bagi manusia otak digunakan untuk mengembangkan potensi dan kapasitas kemanusiaannya
Dari komparasi sederhana tersebut maka wajar bila stimulasi yang diberikan pada manusia dan hewan tentunya juga berbeda pada akhirnya. Dan dari situlah tugas kemanusiaan itu muncul yaitu memaksimalkan potensi-potensi dasar yang dimiliki oleh individu yang bernama manusia.
Belahan-belahan otak dan kerumitan sistem otak yang dimiliki manusia merupakan misteri indah yang tidak akan pernah usang untuk dipelajari dan diurai. Belum lagi permasalahan hati yang merupakan samudra misteri yang maha luas dan berpalung-palung. Ibarat samudra yang menyimpan lautan misteri dan material, hati manusia juga merupakan suatu sistem rumit yang bertabur bermilyar rahasia ilahiyah yang perlu digali dan terus dikaji.
Sahabat,hal lain yang tak kalah menarik sebagai bagian dari kekayaan manusia adalah bahasa. Hewan juga memiliki bahasa namun bagi manusia bahasa adalah bagian hakiki dari kehidupannya. Manusia membutuhkan alat untuk menerjemahkan proses pergulatan hati dan pemikirannya. Dan untuk itulah manusia dilengkapi dengan bahasa agar pergulatan hati dan olah pikirnya dapat tertuang hingga pada akhirnya terjalin pemahaman antar manusia . Dari pemahaman tersebut akhirnya muncul pengkajian dan pembelajaran. Sungguh sebuah sistem sempurna yang melengkapi sistem lain yang ada dalam diri manusia.
Dari kondisi ini sangat jelas terlihat bahwa pembelajaran adalah bagian tak terpisahkan dalam nafas hidup makhluk yang bernama manusia. Kelengkapan sistem yang dimiliki manusia telah memaklumatkan manusia sebagai makhluk pembelajar sejati, dan tentu saja untuk menjaga kapasitas pembelajarannya, manusia membutuhkan sistem pembelajaran yang mampu menstimulasi potensi-potensi dasar tersebut. Sayangnya,sahabat, sistem pembelajaran atau yang lebih kita kenal dengan istilah pendidikan saat ini acapkali terkesan meninggalkan nilai kesemestaan dan justru mengkerdilkan stimulasi potensi yang seharusnya menjadi amanah fundamentalnya. Dapatkah Sahabat bayangkan bagaimana skala masalah yang ditimbulkannya bila kondisi tersebut terjadi secara sistemik pada suatu komunitas dan dalam jangka waktu yang panjang.
Bisa jadi hal itu tidak hanya mengancam eksistensi individu dalam komunitas tersebut namun juga berpotensi mengancam eksistensi komunitas yang bersangkutan. Indonesia adalah komunitas, Sobat,amanah Pendidikan Nasional memang amanah untuk negara dan kita berhak menuntut agar negara memberikan perhatian terbaik untuk peningkatan pendidikan agar sumber daya manusia Indonesia menjadi lebih berkualitas. Tapi sementara negara belum juga mampu mewujudkannya, tidak ada salahnya kan bila kita berperan secara aktif untuk mengembalikan pendidikan pada fungsi hakikinya? Toh negara pun butuh dididik dan didukung,bukan?

Tulisan ini saya persembahkan untuk sahabat saya, Arif Ramdan, yang berencana mengkampanyekan INDONESIA SMART 2020

LET’S STEP TO INDONESIA SMART 2020!

 


catatan seorang Amy : KRITIK ITU INDAH



HAMIRUDIN
SEORANG MUTIARA KECIL DARI SEMAK BELUKAR INDONESIA

SAAT KERUMUNAN KATA ITU MENDEKAT

HATIKU PILU PENUH PELUH RAGU

KALA SELURUH KATA ITU MENDEKAPKU

RAGAKU NGILU

SEMUA KATA ITU

BAGAI SENGATAN RIBUAN TAWON

KU PINGSAN DALAM KETAKUTAN

KU LARA DALAM BALUTAN HARGA DIRI DAN DENDAM

KALA HATIKU YANG BEKU MENCAIR

KUDAPATI

KU TAK KEHILANGAN APAPUN

KU SEMAKIN BERSINAR

DALAM BALUTAN SAYANG PARA SAHABAT

YANG MEMUNTAHKAN SEJUTA KATA ITU

…….

Puisi ini adalah lukisan hati salah satu sahabat kami, Abdul Hamid, atau yang biasa kami sapa dengan Mr. Amy. Sahabat kecil saya ini berasal dari Pulau Balang Ca’di, yaitu sebuah pulau kecil di Sulawesi Selatan. Kami sebut dengan sahabat kecil karena beliau bergabung dengan SMART team saat masih kelas satu SMU! Sahabat saya ini datang ke Pulau Jawa setelah menyelesaikan MTs-nya. Bagi anak pulau seusia itu, sistem pendidikan di luar pulaunya tentu merupakan momok yang menakutkan meski tekad belajar menggunung. Apalagi saat masuk SMART team yang kental dengan tradisi-tradisi gila dan salah satunya adalah saling mengritik. Suatu kejerihan yang sungguh wajar. Bagaimanapun,tanpa kritikan dari sahabat-sahabat kita, kita tidak mungkin memahami kearifan hidup.

Uun Nurcahyanti


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: