Oleh: uun nurcahyanti | Juli 23, 2011

Diskusi Rumah Anak Bangsa Edisi 16 Maret 2011


 

Pemateri: Kepala Dusun tegalsari Pare

Dalam diskusi Rumah anak bangsa Edisi Pekan lalu ,pemateri yang seharusnya diisi oleh kepala desa Tulungrejo, digantikan oleh bapak Kepala Dusun Tegalsari yaitu bapak Mashudi. Dalam kesempatan ini beliu menjelaskan tentang masterplan desa tulungrejo ke depan.

Materi yang tentunya menarik bagi siapapun yang peduli dengan keberlangsungan Pare sebagai sebuah wilayah yang tengah menggeliat untuk mempersembahkan suatu karya demi pencerahan anak bangsa. Wilayah yang memang tidak diniatkan dirintis menjadi sebuah kampung bahasaini oleh perintisnya sendiri yaitu Bapak Muhammad Kalen.

Namun dalam kesempatan kemarin itu bahkan tak sekalipun nama Mr Kalen disebutkan sebagai perintis, bahkan Bapak mashudi menyatakan bahwa beliaulah perintis Pare yang katanya dirintis pada era 80-an.

Statemen lain yang perlu mendapat koreksi dan penjelasan lebih lanjut dari pihak desa adalah bahwa 80 % kursusan itu ilegal dan apabila pihak desa berkenan dan tidak memiliki rasa kemanusiaan maka kursusan-kursusan tersebut bisa saja diusir dari Pare.

Kursusan yang sekarang berkembang di Pare adalah kursusan yang tidak menghasilkan output yang jelas dan oleh karena itu masterplan dari desa Tulungrejo adalah pembangunan kampung wisata pendidikan. Dengan adanya kampung wisata pendidikan maka pare akan bisa dikembalikan pada kondisi idealnya dalam mencetak anak bangsa yang berkemampuan Bahasa Inggris seperti dulu jelas beliau.

Keberadaan Kampung wisata ini nantinya juga akan mengukuhkan kondisi ekonomi rakyat dengan kesadaran berbahasanya yang tinggi untuk menjaga kampung wisata ini. Mungkin seperti itu tujuan Pare ke depan berikutnya.

Ada indikasi juga bahwa keberadaan lembaga pendidikan kursus di Pare seakan tidak membawa dampak yang signifikan terhadap perkembangan Pare dari masa ke masa. Lembaga pendidikan kursus telah mengubah wajah Pare dan tidak memberi kontribusi yang berarti bagi masyarakat pare sendiri.

Tentu hal ini sangat memiriskan siapapun pihak yang concern terhadap perkembangan Pare ke depannya.Dan salah satu pihak yang tersentak dengan berbagai statemen tersebut adalah saya pribadi. Seorang Uun Nurcahyanti memang bukan orang penting yang secara posisi dalam masyarakat bisa diperhitungkan dan perlu untuk didengarkan buah pikirannya, namun satu hal yang saya punya adalah bahwa saya sangat mencintai kota mengajar manusia ini. Dan tentu hal itu tidaklah penting dibanding dengan kepentingan perekonomian rakyat dan kepentingan pemerintahan suatu wilayah ke depan, karena saya bukan orang politik yang memahami kerumitan politik dan saya bukan aparat pemerintah yang memahami masalah masyarakat secara komprehensif. Saya hanyalah orang yang telah menggadaikan seluruh kepercayaan keluarga dan orangtua saya untuk bersikukuh tinggal di kota kecil ini demi sebuah panggilan untuk mengabdi dengan sedikit ilmu yang saya punya, Bahasa Inggris. Saya juga bukan orang yang sukses bercas cis cus dalam bahasa ini, karena karakter dasar saya yang pemalu dan kecerdasan bahasa saya yang mungkin ada dibawah level kecerdasan lainnya. Saya mampu memahami bahasa Inggris setelah lebih dari 12 tahun berjuang untuk memahaminya dan saya menemukan pintu untuk memahami dan mencintai bahasa ini lewat dunia grammar yang pasif dan seringkali dilecehkan sebagai kemampuan yang tidak penting.

Sayangnya hal yang tidak penting inilah yang mengantarkan saya memahami dunia kebahasa Inggrisan. Dan sejak awal ketika saya akhirnya memutuskan untuk bertunangan dengan dunia pendidikan bahasa ingggris ini pelecehan demi pelecehan sangat sering hinggap pada diri saya dan juga guru saya Mr Andre karena kami mengajarkan grammar dan kemampuan-kemampuan pasif lainnya yaitu Writing, Translation maupun TOEFL.

Eksistensi dan kemampuan dan pencapaian yang kami raih rasanya tidak berbekas dan seringkali dianggap begitu sepi. Saat jalan sepi yang kami rintis atas nama bendera Mahesa Institute pada waktu itu sekarang sudah berbuah tapak sejarah dengan berbagai macam rasa dan gaya, keberadaan dan eksistensi kami tetap tidak dianggap penting.

Dalam berbagai kesempatan, aparat ataupun teman seperjuangan yang semestinya memperjuangkan kepentingan Pare kedepan bukan kepentingan pribadi malah justru seringkali menyerang kami dengan retorika bahwa orang datang ke Pare saat ini tidak bisa berbahasa Inggris. Memang secara eksplisit tidak pernah disebutkan bahwa itu adalah program-program pasif yang kami selenggarakan dan yang dulu pernah kami rintis. Tapi bukan berarti kami merintis program itu dengan ngawur tanpa referensi dan tanpa perjuangan untuk meyusun kerangka materinya.

Mahesa institute yang berdiri september 1998 dan leading menjadi lembaga besar yang sangat terkenal luar biasa dua tahun kemudian dengan membawa mainstream baru dalam dunia pengajaran kursus bahasa inggris di Pare yang awalnya hanya berkonsentrasi pada dunia speaking dengan level basic menjadi wilayah yang terlibat dalam dunia bahasa inggris yang lebih berkontribusi besar yaitu dalam dunia keilmuannya yang biasanya menjadi materi kuliah di fakultas-fakultas Bahasa Inggris. Munculah kemudian program Grammar, Writing, Translation dan TOEFL yang memunculkan program Reading dan Listening. Lalu beberapa teman yang memiliki kemampuan dalam dunia speaking memunculkan program Pronunciationdan advance speaking skill.

Pare saat ini telah mengalami transformasi yang dahsyat dalam bidang keilmuan yang diusungnya, tapi mengapa kondisi yang telah berubah ini tetap diukur dengan kacamata satu sisi saja oleh pemateri yang notabene merupakan aparat pemerintah yang seyogyanya menjadi bagian signifikan yang menjaga kondisi Pare dan segala derap budaya yang sekarang tengah dijalaninya.

Hal yang juga perlu dipahami oleh seluruh komponen masyarakat kampung bahasa ini adalah perjuangan para pemilik kursus yang sebagian besar berjuang dari angka nol sama sekali dan merangkak untuk eksis demi tercapainya suatu kondisi pendidikan ideal yang ada dalam benak mereka masing-masing sebagai bagian dari protes sosial atas kondisi pendidikan nasional yang belum mampu memberi solusi terbaik atas ketertinggalan masyarakat bangsa ini dalam dunia kebahasainggrisan yang notabene dianggap sebagai bahasa internasional.

Tantangan yang dihadapi oleh para pemilik mimpi ini bukannya tak ada. Mulai dari penolakan masyarakat sekitar atas budaya belajar yang tinggi, kebencian masyarakat atas arus keluar masuknya pendatang hingga keengganan masyarakat sendiri untuk ikut terlibat dalam proses belajar mengajar yang terjadi.

Penolakan akan budaya belajar yang cenderung lebih banyak dibentuk oleh para pendatang ini seakan menjadi hal yang salah dimata masyarakat umum wilayah Pare. Pemilik kursus dan kursusannya seakan menjadi biang keladi akan banyak hal dan masyarakat hanya sebagai penonton yang menuntut kesempurnaan para pemain dan berlepas tangan saat terjadi apa-apa pada para pemain. Dan lucunya saat ide kampung wisata bergulir tak banyak komponen masyarakat yang mengkritisi dan cenderung welcome dan menerima begitu saja tanpa memperhitungkan ongkos sosial yang mungkin akan terjadi nantinya.

Pada tahun 2000-2001, kami pernah membedah masalah Pare dengan diskusi hangat yang melibatkan beberapa siswa Mahesa Institute yang cukup kritis dan memahami permasalahan kemasyarakatan. Pertanyaan mendasarnya adalah mengapa masyarakat kita kurang mengenal Pare ( pada saat itu ), namun Pare ternyata telah ada sejak tahun 1977.d Dua puluh tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bertahan dalam jalan sepi yang penuh tantangan ini.Tapi Pare membuktikan diri untuk terus bertahan. Hal yang tentunya menarik untuk dikaji.

Hasil pengkajian teman-teman siswa pada waktu itu menghasilkan suatu temuan penting yang mereka katakan pada saya pada waktu itu sebagai amanah, bahwa Pare bertahan sekian lama pertama karena adanya pengakaran yang kokoh yaitu mitos belajarnya yang tinggi. Mitos belajar ini memiliki artian bahwa budaya belajar yang kental dan keterlibatan para bapak ibu kos dalam mendorong atmosfer belajar ini akhirnya membentuk konsep terbentuknya sistem pendidikan wilayah yang mengakarkan karakteristik khas Pare yang diistilahkan oleh… sebagai Kota Mengajar Manusia.

Hal kedua yang membuat Pare tumbuh kokoh adalah karena Pare menganut sistem belajar berbiaya murah, atau dalam istilah saya pendidikan kerakyatan. Pendidikan khas indonesia yang mungkin bertentangan dengan sistem pendidikan yang dianut oleh kebanyakan Lembaga pendidikan baik forma maupun non formal yang lebih mengandalkan penampilan dengan biaya pendidikan yang tinggi karena kebutuhan untuk pengadaan sarana dan prasarana yang serba ideal. Pare menawarkan konsep berbeda, karena disini everywhere is a school dan everyone is a teacher. Tanpa sarana yang serba luks dan tanpa biaya yang selangit, Pare ingin memberi bukti bahwa mereka mampu menghasilkan output yang cukup mumpuni juga.

Kedua hal ini yang membuat Pare kokoh bertahan hingga saat kami melakukan pengukuran itu sekitar sepuluh tahun yang lalu.

Pare dalam kerangka yang baru akhirnya beralih pada pendidikan bahasa Inggris ala kampus. Dalam hal keilmuan, Pare melesat jauh demi mengikuti zamannya, tapi secara budaya pare merosot jauh melampaui kekuatan akar budayanya. Konsep marketing yang dulu dipakai oleh Mahesa Institute yang berpola konsep marketing progresif yang menggunakan simbol istilah yang bombastis dan menjual, akhirnya memang menjual Pare keluar wilayah domestiknya menjadi wilayah yang berskala nasional. Istilah Kampung Bahasa Inggris yang digunakan oleh mr Habib nasihin untuk menjual Pare ke lorong-lorong kampus sejak 1999 itu pun akhirnya mampu menyihir orang untuk datang ke Pare, termasuk media cetak dan elektronik. Hal yang kemudian terjadi adalah eksodus modal bukan menanaman budaya belajar yang tinggi. Seorang siswa saya pernah menulis:Pare, kemenangan lembaga kursus atau kekalahan budaya masyarakat.

Yang pasti harus menjadi perenungan bersama seluruh komponen masyarakat Pare adalah bahwa pendidikan addalah investasi jangka panjang suatu masyarakat bangsa sementara berkejaran dengan dunia perekonomian yang mungkin akan tertuang dalam master plan Pare kedepan yang ingin menjadi Kampung wisata Pendidikan adalah investasi jangka pendek yang penuh resiko karena orang datang ke Pare bukan karena tertarik akan keelokan wilayahnya tetapi karena budaya belajar yang diciptakan masyarakat pengelola kursus yang telah begitu total mengekspresikan kecintaan mereka dalam gemerlap dunia pendidikan alternatif.

Ide mengusir kursusan yang ilegal bukannya melakukan pendampingan agar mereka segera legal dan tetap eksis bertahan sebagai magnet wilayah, tentu bukan ide cantik yang bakal menjadi solusi terbaik, tapi bisa menjadi bumerang yang yang meluluhlantakkan pondasi bangunan yan dirintis BEC sejak tahun 1977 ini. Pare memang cagar budaya karena memiliki berjuta keunikan, tetapi Pare bukanlah tempat wisata. Pare tidak pantas menyandang gelar sebagai sekedar kampung wisata pendidikan, Pare adalah Laboratorium Pendidikan Bahasa Inggris yang pertama kali muncul di wilayah Indonesia dengan sistem pendidikan wilayahnya. Pare adalah Kota Yang Mengajar Manusia, bukan kota tempat manusia berdarmawisata semata.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: