Oleh: uun nurcahyanti | Juli 22, 2011

Tentang Pinta


Kau ucapkan salam perpisahan
Pada dinding ruang tamu kita.

Ku pekat dalam gelora beban
Yang menyeruak entah mengapa..

Ku pinta padamu,
Usah ucapkan kata kutukan itu lagi…
Ku bergelung kelu dalam lingkar kata itu,

Bagai ujung pedang berkilat-kilat
Yang tengah diacungkan di depan mataku
Sebelum ditikamkan ke jantungku

Sejenak dunia terasa sepanas neraka.
Selanjutnya senyap..
Bagai malam yang dipeluk gulita

Seakan hidup ini hampa,
Ingin mengadu
Tapi entah kemana..

Malam tenggelam dalam pekatnya,
Mentari berdiam tanpa tutur.
Dunia kehilangan seluruh abjad dan kosakata
Bintang tak tampakkan kilaunya jua..

Angin sepoi membelai rambutku..
Ingatkanku akan masa lalu

Saat tangan lembut itu mengusap pipiku,
Lantas bergerak menjauh
Tanpa sempatkan diri
Tuk menoleh kembali…

Bayangan pun hilang
Diselubungi kegelapan malam

Kau ada, bagai tiada..
Sewarna mosaik soga berbayang kelabu
Sayup terterpa awan terang

Terjerembabku dalam kekosongan,
Dalam lorong labirin tak berkesudahan
Tersesat dalam rimbun ilalang tanpa tepi.
Terperangkap pasir gurun dengan fatamorgananya..

Mata pedang itu hanya garang berkilauan,
Tapi mengapa mataku telah berdarah-darah..

Pare, 17 Juli 2011
Langit Jiwa Penyaksi


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: