Oleh: uun nurcahyanti | Juli 22, 2011

Sebuah Fragmen Waktu


Saat mata rajawalimu nenukik membelah waktu
Diujung pertemuan biru itu,
Untaian kalimahmu menggoyak ujung kalbuku
Kau terlalu takut ditinggal sendirian!
Ceracaumu..

Ada bilur yang menggores labirin logikaku,
Ada tanya yang berdentam dan bertalu..
Ada masgul yang menggumpal rusuh.

Berseluncurku pada bait-bait kenangan,
Kutapaki kembali segala luka
Tuk temukan simpul jawaban..
…….
Kesenyapan tak berujung itu tiba-tiba datang,
Membentuk sebentuk gelembung purba..
Saat keranda ibuku diusung pergi
Diarak menjauhi kerumunan siang terik itu
Diiringi jerit menyanyat sekelilingku..
Dan juga airmata bapakku,

Peluh basahi hati kecilku..
Berjuta tanya bergema didadaku,
Tapi bibir tak jua berkata-kata

Satu dua butir air mataku menitik,
Bersama sejumput rasa hampa..
Tapi aku tak tahu mengapa,,

Lalu,
Sebagian mereka berkata :
Ibumu pergi mengaji, Nduk..

Mereka yang berkata tak pernah tahu,
Aku menunggu..

Kain penutup jasad ibuku itu ku peluk tiap malam
Ku terlelap dengan rasa magis yang senyap
Ku terjaga dalam lingkar kesunyian..

Aku menunggu..
Namun beliau tak kunjung pulang..
: bahkan bayangannya,,

Pare, 13 Juli 2011


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: