Oleh: uun nurcahyanti | Juli 22, 2011

Mari..Selamatkan Institusi Sekolah!


Mari..Selamatkan Institusi Sekolah
Tahun 1999 adalah salah satu tahun penting dalam hidup saya, karena pada tahun itulah saya bertunangan dengan dunia pendidikan. Adalah Pare, suatu kota kecil di wilayah Jawa Timur yang memiliki tradisi pendidikan yang luar biasa dan saya biasa menamakannya dengan sistem pendidikan wilayah yang berbasis kerakyatan, yang membuat saya jatuh hati pada dunia pendidikan. Dan sejak saat itu saya tercelup dalam gempita dunia pendidikan Indonesia, meski dalam wilayah yang sangat tidak dipandang sebelah mata yaitu pendidikan luar sekolah. Sementara saya sendiri tidak memiliki latar belakang keguruan maupun bahasa Inggris.
Kebanyakan siswa saya adalah sarjana dari berbagai disiplin ilmu dan merekalah yang senantiasa aktif mengisi berbagai ketumpulan saya mengenai pemahaman kependidikan dan kebudayaan maupun sosial. Banyak telaah buku yang kami lakukan, dan merekalah yang menanamkan kesadaran kritis saya terhadap berbagai masalah yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia. Dan sejak saat itu buku-buku yang berbau penggugatan terhadap pendidikan adalah makanan sehari-hari saya..
(Sayangnya..astaghfirulloh..sayangnya,apa yang disampaikan buku-buku kritis tersebut sebagian besar benar adanya..Dan saya sendiri yang pernah mencicipi bangku sekolah tak mampu memungkiri bahwa hal tersebut adalah benar belaka..)
Namun..semakin dahsyat kritik yang dilayangkan pada dunia persekolahan dan semakin keras gaung makian yang terlontar untuk sistem ini, tidak lantas membuat saya antipati pada institusi yang bernama sekolah ini. Apalagi kala melihat anak-anak kecil berseragam putih merah berlari-lari melewati pematang sawah dan menenteng sepatu sederhana mereka dan binar mata mereka yang jernih penuh harapan.
Duhai..mereka adalah aset masa depan bangsa besar ini..bunda-bunda mereka mungkin tengah bergelut di keramaian pasar dan ayahanda mereka mungkin tengah berpeluh di bawah terik mentari. Dan tentu saja mereka nyaris tak punya waktu untuk mendidik sendiri putra-putri mereka seperti yang idealnya dilakukan para orangtua dalam sistem homeschooling dan sekolah adalah satu-satunya harapan itu.
Pertarungan dalam diri saya semakin menajam rasanya..
Akhirnya saya menentukan sikap, apapun kondisi dan kelemahan sistem persekolahan,institusi hebat ini haruslah diselamatkan!
Setengah tahun yang lalu saya membaca buku yang penulisnya masih terdengar asing di telinga saya,Munif Chatib, namun judul bukunya benar-benar menggelitik rasa ingin tahu saya untuk membacanya: Sekolahnya Manusia. Sebuah buku yang sangat menginspirasi dan sejak saat itu saya pribadi ingin bisa mencicipi ilmu Multiple Intellegence yang bisa diterapkan sebagai suatu strategi belajar.
Saat ini saya berada di salah satu institusi hebat yang ada di wilayah Sumatra Barat,Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang,yang dipimpin oleh seorang pendidik yang memiliki visi dan misi luar biasa dalam dunia pendidikan. Dan hari ini saya bertemu dengan penulis buku hebat tersebut,sahabat..
Tuhan seakan mengingatkan saya untuk terus kukuh pada keinginan untuk menjadi bagian dari peyelamatan institusi sekolah yang memang tengah morat-marit. Saya diperlihatkan model nyata sekolah yang berevolusi dan bertemu dengan orang-orang luar biasa di ranah Minang ini, ibu Fauziah Fauzan El Muhammady yang luar biasa, saya dipertemukan dengan the Living Threasure of Indonesia,bapak Taufik Ismail yang begitu dalam, dan yang tak terduga lainnya adalah selang sehari setelah itu saya berkesempatan bertemu dan belajar tentang materi multipe intellegence dengan bapak Munif Chatib..!
Subhanalloh..subhanalloh..
Sahabat,bermimpilah dan biarkan Tuhan memeluk mimpi-mimpimu..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: