Oleh: uun nurcahyanti | Juli 22, 2011

Maaf, apa betul ini SMART?


Suatu pagi di sebuah lembaga kursus bernama Smart. Seseorang yang baru saja tiba dari kota besar seperti Jakarta melenggang sedikit ngos-ngosan memasuki halaman depan Smart. Setelah menitipkan koper beserta tasnya kepada bapak tukang becak yang masih menungguinya di pinggir jalan, ia menghampiri seorang ibu yang tengah menyapu halaman Smart. Masih belum cukup banyak wajah-wajah pelajar yang wara-wiri di tempat itu. Sehingga ia memutuskan untuk bertanya kepada seorang cleaning servise.
“permisi Bu, ini benar Smart ?” tanyanya. Sang ibu tersenyum mengangguk.
“ada yang bisa dibantu mas ?” lanjutnya kemudian.
Tersirat ekspresi kaget pada raut wajah lelaki itu. Matanya mengamati sebuah spanduk yang sudah terlihat usang, a step ahead to be success. Dalam hati ia berpikir, mana ruang kelasnya ? isinya kayak miniatur hutan begini, apa iya aku ditipu google ??
Merasa tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Lelaki itu akhirnya pergi setelah berterima kasih kepada sang ibu. Dihampirinya tukang becak tadi.
“Bapak gak salah antar saya kan ?” tanyanya serius.
“yang saya tahu, Smart ya ini mas. Pondok Mogol toh ?”
“he’em, Pondok Mogol, jalan Flamboyan nomor 182A.” Matanya tak lepas dari layar HP. Membaca alamat Smart yanng dikirimkan temannya melalui SMS.
“ya betul ini, mas. Wong saya sering kok nganterin orang kesini,” Bapak tukang becak meyakinkan. “ mas ini gak percaya yah kalau ini tempatnya orang-orang ngomong bahasa Inggris ?”
“iya..” barisan giginya terlihat, ia tersenyum sungkan.
“don juj the buk bai its kafer lho mas,” sambil senyum-senyum bangga bisa sedikit ngomong bahasa Inggris, meski dengan pengucapan dan logat yang ajaib, don’t judge the book by it’s cover. “kata orang, berlian itu tetap saja disebut berlian meskipun ditemukan di tempat sampah.” Lanjutnya.
“ya, Bapak benar.” Timpal lelaki itu, setelah beberapa saat berusaha mencerna bahasa apa yang tadi diucapkan Bapak ini.
Meskipun begitu, ia masih belum terlalu yakin. Mana mungkin ia bisa belajar di tempat semacam ini. Di kampusnya yang full AC dan memakai peralatan ekstra canggih saja ia terkadang masih merasa tidak nyaman, apalagi belajar disini ??
“halo, Di ?” sapanya pada suara diseberang telepon.
“kenapa, Bro ? sudah ketemu tempatnya ?”
“ga tahu. Aku lagi didepan warung. Kata tukang becak aku sudah sampai di Smart.”
“iya, didepan Smart memang ada warung makan. Anak gadis penjualnya manis lho. hahaha “
“nanti lah urusan gadis,” otak playboy-nya masih belum memberikan sinyal-sinyal aktif. “Heh, ga salah kau titipkan aku di tempat ini ? sama sekali tidak seperti sebuah lembaga kursus.” Matanya mengamati bangunan sederhana di depannya.
“hahaha, dulu aku juga ngeyel. Mana mungkin tempat kursus seperti itu. Tapi memang begitu, Bro. Nanti juga terbiasa. Sudah mendaftar ?”
“belum. Masih shock.”
Kembali suara tawa renyah terdengar. Sepertinya senang sekali seseorang ini mendengar komentar dan keterkejutan kawannya.
“kalau sudah masuk ke dalam zona Smart, sudah bukan shock lagi nanti. Mati berdiri bisa jadi. Nikmati saja, Bro.”
Ia menghela nafas, kemudian kembali bertanya pasrah, “lalu aku harus apa sekarang ?”
“cepat mendaftar, kuota pendaftar terbatas. Langsung saja ke office, atau kau bisa temui direkturnya langsung. Bilang saja temanku, beliau pasti tau.”
“ketahuan menipuku, awas kau nanti.” Kalimat terakhir sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menuruti saja saran kawannya tadi.
Kembali ia melangkah di pekarangan. Sang ibu tadi masih berada di tempat semula, memungut sampah kertas yang hendak dibuangnya di bak sampah sebelahnya.
Melihat lelaki tadi kembali berjalan ke arahnya, sang ibu tersenyum ramah menyapa.
“Mas, bingung ya ?”
“iya, Bu.”
Sang Ibu terkekeh sejenak, “jadi, apa yang bisa saya bantu ?”
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya ia menjawab, “ saya mau belajar disini, Bu. Office-nya dimana ya ?” tanyanya lugu. Tulisan office kecil yang tertempel di depan pintu kantor tak tersapu oleh pandangannya.
“itu lho, Mas,” keduanya menghadap office, “ ayo kesini kalau mau mendaftar.”
Sang Ibu, diikuti lelaki tersebut berjalan menuju office. Sesampainya di dalam ruangan, matanya tak lepas mengamati. Jam dinding yang sudah sama tuanya dengan papan bertulisan bulan dan angka-angka.
“duduk, Mas.” Keduanya duduk berdampingan menghadap meja office.
“Ibu bekerja disini ?” ia bertanya, basa-basi. Sebelumnya ia sudah menyimpulkan bahwa beliau yang dihadapannya ini adalah seorang cleaning service.
Sang Ibu hanya mengangguk. Belum sempat bercerita banyak, seorang gadis semampai memasuki ruangan sambil mengusap-usap mukanya. Mungkin bedaknya ketebalan. Gadis itu tersenyum kikuk kepada sang Ibu. Senyuman yang berarti ‘iya, saya telat berangkat.’
“Mas ini mau mendaftar, Yan.” Kata sang Ibu.
Langkahnya tergopoh, lalu duduk menghadap dua orang yang sudah tiba lebih awal tadi.
“mau ambil program apa, Mas ?” tanya si gadis yang dipanggil ‘Yan’. Dian.
“saya bingung Mbak, masih belum seratus persen nih otak saya.” Jawabnya sambil menyomot satu brosur dimeja.
Dian, atau si gadis tadi tiba-tiba tertawa meringkik. “belum seratus persen apa emang ga bisa seratus persen Mas.” Guraunya, dengan tawa khas kuda andalan. Lelaki tersebut hanya tersenyum tak menanggapi.
“bisa saya ketemu direkturnya, Mbak ?” tanyanya kemudian.
“lha, yang duduk di sampingnya Mas itu lho direkturnya.” Jawab Dian, cepat. Kembali diiringi tawa.
“ahh? Masa ???” matanya melotot menatap sang Ibu disampingnya. What a shocking day !! jeritnya dalam hati. Sang Ibu yang ia pikir adalah seorang cleaning service ternyata justru seorang direktur lembaga yang sedang didatanginya. Pemandangan yang jarang ia temukan di kota besar tempatnya tinggal, dimana seorang pemimpin pun bersedia melakukan pekerjaan bawahannya.
Tiba-tiba lelaki tersebut menunduk. Malu pada dirinya sendiri. Malu pada kenangan hidupnya yang begitu angkuh. Tentang siapa saya dan siapa kamu. Apa kuasa saya dan apa kewajiban kamu. Apa jabatan dan rentetan tittle yang saya bawa dan apa atribut sosial yang kamu punya. Segala sesuatu yang mensenjangkan hati dan pikirannya.
“Bu, saya Agan. Temannya Ardi yang dari Cirebon. Saya mau belajar disini. Jadi sebaiknya gimana ya, Bu ?” tanyannya setelah dengan mantap memutuskan untuk bergabung dalam zona Smart.
Belum seminggu ia bergabung dengan Smart, mulailah terlihat kegilaan ekspresi yang bisa ia tuangkan semua disini. Tak ada gengsi, apa lagi sibuk mengukur kasta. Semuanya sama. Semuanya adalah pelajar. Baik siswa maupun tutornya. Termasuk pula direkturnya.

(cerita fiksi, terinspirasi dari komentar teman-teman dan opini pribadi.)
Oriza Oriloval. Ni’matul J.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: