Oleh: uun nurcahyanti | Juli 22, 2011

LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN


A. PENGERTIAN FILSAFAT
1.Pertanyaan Fundamental
Awalnya manusia cukup puas dengan hal-hal yang ada di sekitarnya dan dengan segala hal-hal yang teramati saja. Namun dalam perkembangannya pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar diri manusia tersebut menimbulkan banyak pertanyaan-pertanyaan yang tentunya membutuhkan jawaban demi eksistensi diri manusia itu sendiri. Pencarian akan jawaban dari segala pernak-pernik pertanyaan dari peristiwa yang bersangkutan memunculkan mitos-mitos dalam masyarakat sebagai acuan umum keyakinan pada komunitas pencari jawaban tersebut.
Dalam perkembangan berikutnya terdapat juga komunitas yang kurang bersepakat atau bahkan secara ekstrim tidak mau menerima olah pikir yang menghasilkan hal yang bernama mitos tersebut. Komunitas ini adalalah perantauan suku Ionia yang menetap di Pulau Melitus pada masa Yunani Kuno. Komunitas ini tidak menyelesaikan masalah berdasarkan mitos-mitos yang telah diyakini oleh masyarakat Yunani pada waktu itu tetapi menggunakan logika dan membicarakan temuan logikanya bahkan diperdebatkan secara terbuka. Olah pikir ini kemudian dikenal sebagai filsafat.
Manusia adalah makhluk yang memiliki kebutuhan untuk pengembangan diri sehingga bertanya adalah hal yang hakekat dalam diri manusia. Pencarian jawaban dengan menggunakan logika dan nalar demi untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul di lapangan kehidupan maupun yang berhubungan dengan fenomena alam semesta adalah hakekat filsafat . Hal ini disebabkan oleh kebutuhan manusia untuk mengetahui arah kehidupannya,memperluas cakrawala atau horizon pandangnya, dan memperoleh konsepsi tentang segala sesuatu berikut makna-makna yang melingkupinya. Manusia juga perlu berspekulasi untuk memperoleh jawaban-jawaban atas kegelisahannya masing-masing ataupun berspekulasi demi menyelesaikan masalahnya dengan individu-individu lainnya.
Dalam hal ini filsafat menjauhkan fanatisme buta dalam menyelesaikan perselisihan dalam ruang hidup manusia dengan menciptakan dasar koherensi pemikiran yang logis dengan dasar kebenaran dan kebijaksanaan karena sifat dasar dan karakter alamiah logika adalah jujur dalam mencari kebenaran.
2.Berpikir Filsafati
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa berpikir filsafati adalah berpikir dengan landasan logika yang jujur dalam mencari kebenaran. Oleh karena itu berpikir filsafati memiliki asumsi dasar yang menjadi kerangka geraknya,yaitu :
a) Renungan dan penghayatan akan kebijaksanaan.
Sejak zaman dahulu filsafat telah dijadikan wahana untuk menjelajahi proses perenungan dan pemikiran dalam diri manusia tentang segala sesuatu yang menyangkut lapangan kehidupan manusia lahir maupun batin,jasmani maupun rohani termasuk spiritualitas dan konsepsifitas. Sehingga dari awal, filsafat memang berpijak pada ranah alamiah tentang manusia dan seluruh konsep kondisi yang meliputinya yaitu ruang,waktu,materi dan energi. Konsep-konsep ini yang merangkai suatu kebijaksanaan dalam kehidupan manusia

b) Renungan tentang akar kenyataan.
Apa yang ada dalam ruang hidup manusia adalah aset yang berpotensi menjadi bahan bakar perenungan dan pemikiran. Modalitas manusia ibarat puncak gunung es yang pondasi penopangnya masih tersembunyi dalam luasnya permukaan lautan. Puncak gunung es tersebut adalah kenyataan yang tidak mungkin muncul tanpa penopang yang luas dibawahnya. Penopang ini adalah kondisi statis dan primer dari sekelumit kenyataan yang sebenarnya lebih bersifat tentative dan sekunder.

c) Berpikir radikal
Berpikir radikal, menurut Dr. H. Oong Komar,M.Pd.(1987), adalah berpikir kritis sampai ke akar-akarnya dan bersifat spekulatif dan komprehensif. Berpikir yang mengungkapkan esensi dari sesuatu yang dibahas,mengakar,teliti dan teratur. secara otomatis kondisi ini merupakan olah pikir dengan kesadaran yang sangat tinggi dan sangat sistematis.

3.Secara Semantik
Kata filsafat berasal dari Bahasa Yunani Kuno yaitu philosophy,yang tersusun dari kata philein atau philare dan sophia. Philein atau philare berarti cinta,sedangkan sophia berarti kebijaksanaan. Sehingga philosophy diartikan cinta terhadap kebijaksanaan. Cinta berarti suka sekali atau sangat suka. Kebijaksanaan merupakan sintesis dari kebenaran,keadilan,kebaikan dan keindahan. Jadi filsafat adalah pemikiran yang (ia) sangat menyukai (sekali) terhadap kebenaran,keadilan,kebaikan dan keindahan. Yang pada akhirnya memotivasi orang yang berpikir untuk melakukan aksi yang berdasar pada hal-hal tersebut yang bersintesa menjadi kebijaksanaan dalam dirinya.

Dari penjelasan diatas, bisa ditarik kesimpulan bahwa filsafat adalah pembahasan akan segala sesuatu melalui spektrum pengalaman manusia yang menghasikan pandangan yang komprehensif tentang alam serta kesemestaannya (ruang dan waktu) ,dan penjelasan yang universal tentang hakikat benda(materi dan energi). Imam Barnadib(1984) mengatakan bahwa barang siapa mempelajari filsafat,ia dapat mengetahui adanya mutiara-mutiara yang cemerlang dan menggunakannya sebagai pedoman dan kebijaksanaan hidup.

B. HAKEKAT PENDIDIKAN
1. Hakekat Manusia
Tuhan menciptakan alam semesta yang terdiri dari benda mati dan benda hidup. Unsur utama pembentuk alam semesta adalah ruang ,waktu,materi dan enerji. Benda mati adalah unsur pendukung utama keberadaan benda hidup yang keberadaan materi dan enerjinya membentuk unsur ruang bagi benda hidup.
Benda (makhluk) hidup terdiri dari tumbuhan,hewan dan manusia. Ketiga makhluk hidup tersebut meiliki persamaan dan perbedaan secara hakekat modalitas fisiknya. Persamaan antara ketiganya adalah mereka bertiga memiliki organ gerak,organ reproduksi dan bahasa. Sementara hal mendasar yang membedakan antara tumbuhan dengan hewan dan manusia adalah otak. Hewan dan manusia adalah makhluk hidup yang memiliki otak sebagai bagian dari piranti fisiknya. Artinya,secara hakikat fisik hewan dan manusia tidaklah berbeda. Oleh karena itu wajar kiranya beberapa filsuf member istilah animal untuk manusia. Sepert F. Nietzshe yang mengistilahkan manusia sebagai unfixed animal, yaitu makhluk yang belum berkepastian.
Namun meskipun hewan dan manusia sama-sama memiliki otak,bahkan binatang mamalia memiliki kapasitas sel otak yang jauh lebih besar dan canggih daripada binatang reptil, ternyata fisiologi otak manusia dan hewan sangatlah tidak sama. Otak manusia terdiri dari seratus milyar sel otak,sementara sel otak hewan yang paling besar adalah sepuluh juta saja. Pemilik sel otak ini adalah kera dan sejenisnya. Otak manusia terdiri dari otak reptil, otak kecil,otak mamalia dan otak manusia (neokorteks). Sementara pada hewan hanya memiliki satu karakter fungsi otak.Binatang reptil memiliki otak reptil,dan binatang mamalia memiliki otak mamalia saja .
Otak kecil adalah bagian otak yang menyimpan kebiasaan atau rutinitas manusia.Manusia adalah makhluk kebiasaan ,dan segala hal berpotensi untuk menjadi kebisaan bagi makhluk ini. Otak reptil berkarakter instingtif seperti karakter dasar binatang reptil. Ini adalah tingkat kualitas otak yang paling rendah. Otak reptil ini punya sifat menghidupkan otak reptil lainnya. Otak mamalia adalah otak yang menyimpan karakter belajar,emosi dan metabolisme tubuh.Makanya sangat wajar bila manajemen emosi manusia kurang stabil maka berpengaruh pada kondisi kesehatannya. Neokorteks atau otak manusia adalah otak yang menyimpan karakter analisa,pertimbangan,komparasi,asosiasi dan kekuatan untuk mengambil keputusan.
Otak manusia ini memiliki karakter unik seperti karakter daun. Sistem canggih yang menjadi pintu masuk ke area neokorteks ini bersifat seperti stomata pada daun,hanya akan membuka bila ada enerji positif yang mendukungnya. Jadi, manusia bukan sekedar makhluk pembelajar,tapi ia adalah makhluk yang berpikir. Kualitas hidup seorang manusia ditentukan oleh kapasitas tertinggi yang dimilikinya yaitu mengambil keputusan berdasarkan analisa dan pertimbangan-pertimbangan yang logis dan sadar yang selanjutnya harus mampu dipertanggungjawabkan. Jika manusia belum mencapai tingkat kesadaran seperti ini,berarti ia belum memaksimalkan kualitas ke-manusia-annya.

2. Hakekat Pendidikan
Manusia adalah makhluk yang berpikir sebagai bagian dari levelitas ke-manusia-annya. Dalam tumbuh kembang seorang manusia yang dimulai dari janin,otak manusia memiliki mekanisme pertumbuhan yang dahsyat. Volume otak manusia yang berjumlah hanya 100 milyar tersebut sebenarnya adalah jumlah sel yang masih independen. Sel otak ini belum saling terkait satu sama lain. Sel otak ini bisa saling terkait bila ada stimulasi dari luar ataupun dari dalam dirinya. Stimulasi akan memaksimalkan hubungan antar sel otak.Satu sel otak yang terstimulasi akan memghasilkan sekitar 20 dendrit atau cabang antar sel. Dendrit-dendrit ini akan saling mengait dengan proses yang disebut mielinisasi.
Mielinisasi membutuhkan stimulasi yang tersistem dan konsisten agar jalinan antar sel otak tersebut menjadi kuat.Disamping itu perlu adanya asupan gizi yang cukup untuk menopangnya. Tanpa stimulasi dan asupan makanan yang baik pertumbuhan sel otak bisa sangat terganggu, bahkan berkembang sangat minimal.
Hal lain yang menarik adalah sebaran waktu pertumbuhan volume otak manusia. 80% volume otak manusia berkembang dalam rentang waktu hingga 3 tahun pertama kehidupannya. 20%-nya lagi berkembang seiring dengan usianya hingga usia 18 tahun. Sehingga wajar bila anak usia 1-3 tahun memiliki daya serap yang luar biasa dan juga memiliki keingintahuan yang bahkan jauh lebih besar dibandingkan dengan seorang ilmuwan.
Kita semua tentu mahfum bahwa perjalanan waktu tak akan pernah berhenti,jika daya belajar anak yang sedemikian tinggi ini tidak disertai dengan stimulasi yang hebat,tentu kapasitas seorang anak tidak akan mencapai kondisi yang maksimal kelak.
Stimulasi –stimulasi yang diberikan pada seorang manusia secara tersistem dan konsisten merupakan hakekat dasar pendidikan. Karena kebutuhannya yang tersistem dan memerlukan waktu yang terus-menerus inilah maka tercipta sistem pendidikan levelitas yang dianut oleh metode pendidikan klasik dan tradisional dengan asumsi dasar bahwa levelitas jenjang pendidikan berbanding lurus dengan kualitas dan kapasitas intelektual para peserta didik. Sehingga tercipta sistem sekolah dengan tingkatan dan jenjang-jenjang kelas.
Perkembangan substansi ilmu pendidikan dewasa ini pada garis besarnya tiba pada muara adanya image masyarakat yang berkembang dewasa ini,yaitu jika berbicara tentang pendidikan, maka hal pertama yang muncul adalah pedagogik atau ilmu pendidikan dan hal kedua adalah tentang pengajaran, murid dan guru.

C. FILSAFAT PENDIDIKAN
Telah dibahas sebelumnya bahwa filsafat addalah berpikir,berspekulasi secara mendalam dan jauh ke depan,bahkan menyangkut nilai kebenaran dan menentukan hal-hal yang baik sebagai pegangan. Filsafat merupakan induk semua ilmu (the mothers of science) karena karakteristiknya yang radikal dan berpedoman pada logika yang mendasar. Secara populer,filsafat berarti pandangan hidup
Pandangan hidup merupakan kristalisasi dari nilai-nilai yang diyakini kebenaran,ketepatan,dan kemanfaatannya,serta menimbulkan tekad untuk mewujudkannya.Menurut Stella Van Steven Henderson (1959),”Filsafat pendidikan adalah penerapan filsafat terhadap masalah-masalah pendidikan”. Sehingga Filsafat pendidikan membahas mengenai:
a) Apakah pendidikan
b)Apakah tujuan pendidikan
c)Bagaimana peran pendidikan dalam Negara
d)Bagaimana hubungan pendidikan dengan agama,kesusilaan,seni,kehidupan,social,politik dan ekonomi.
Tentu saja dengan aksentuasi Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa karena kita tak bisa melepaskan diri dari ruang lingkup Negara sebagai wilayah pijak kita atas tujuan pendidikan itu sendiri.

D. Aliran Filsafat yang melandasi pendidikan:
1. Metafisika
– Mempelajari sifat realitas dan hakekat realitas
– Menghubungkan dengan konsep realitas yang khusus tercermin dalam mata pelajaran, pengalaman dan ketrampilan.
2. Epistemologi
– Merupakan analisis filsafat terhadap pengetahuan, khususnya berkenaan dengan kemungkinan asal mula, sifat dasar, kebenaran dan aspek-aspek pengetahuan lainnya yang berkaitan
– Berhubungan dengan cara memperoleh pengetahuan, erat hubungannya metode pengajaran dan belajar
3. Axiologi
– Mempelajari apakah nilai itu sesungguhnya. Dibagi menjadi Etika dan Estetika
4. Logika
– merupakan bagian filsafat yang mempelajari segenap azas, aturan, dan tatacara mengenai penalaran yang benar.

E. Berikut aliran- aliran dalam filsafat pendidikan:
1. Filsafat Pendidikan Idealisme
Memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi ataupun fisik. Pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Hegel,Emanuel Kant, Al Ghazali.

2. Filsafat Pendidikan Realisme
Merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian subyek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak, dan di pihak lain adalah adanya realita diluar manusia yang dapat dijadikan obyek pengetahuan manusia. Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Aristoteles, Johan Amos, John Locke, Galileo, John Dewey.

3. Filsafat Pendidikan Materialisme
Berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan ruhani, spiritual ataupun supernatural. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Demokritos, Ludwig Feurbach.

4. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Dipandang sebagai filasat Amerika, namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat apa yang manusia alami. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Charles Sandra Peirce, Willian James, John Dewey, Heracleitos.

5. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan kreatif, subyektifitas pengalaman manusia dan tindakan konkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia dan realitas. Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Jean Paul Satre, Martin Buber, Lawrence B . Thomas.

6. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Bukan merupakan aliran filasat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar dimasa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Tokoh-tokoh aliran ini adalah: George Axtelle, William O. Stanley, Lawrence B. Thomas

7. Filsafat Pendidikan Esensialisme
Adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada tren progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral diantara kaum muda. Tokoh-tokoh aliran ini adalah: William C. Bagley, Thomas Briggs, Issac L Kandell

8. Filsafat Pendidikan Perenialisme
Merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad ke duapuluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultural. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan Ortimer Adler.

9. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstrusionosme dipelopori oleh George Count dan Harrold Ruggs pada tahun 1930, yang ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Caroline Pratt, George Count dan Harrold Ruggs.

F. FILSAFAT PENDIDIKAN DI INDONESIA

Pelaksanaan pendidikan dalam suatu negara harus berlandaskan filsafat bangsa, seperti di negara Indonesia, telah diketahui bersama bahwa negara Indonesia punya falsafah Pancasila, tentu saja dalam pelaksanan pendidikan di Indonesia harus membentuk manusia yang pancasilais sejati.
Sedangkan pandangan kemanusiaan yang tidak sesuai dengan pancasila tidak perlu dilaksanakan dalam pendidikan kita, misalnya hakekat yang mengatakan bahwa manusia pada hakekatnya merupakan serigala bagi manusia yang lain ( homo homini lupus)

Manusia Pancasila sejati adalah:
1. Manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Manusia yang punya pribadi sosial yang bermoral, sebab pandangan hidup Pancasila menerima adanya tiga hakiki kemanusiaan , seperti hakekat individual, hakekat sosial, hakekat susila.

Untuk itu perlu dirintis filsafat pendidikan yang cocok dengan kondisi serta budaya Indonesia. Suatu filsafat pendidikan yang dijabarkan dari filsafat Pancasila sebagai filsafat negara. Untuk memberikan arah kepada pendidikan di Indonesia diperlukan teori pendidikan yang tepat untuk mencapai tujuan. Filsafat yang menggunakan teori pendidikan ini akan menguraikan tentang:
1. Pengertian pendidikan yang jelas dan berlaku serentak di seluruh tanah air.
2. Tujuan pendidikan, yaitu pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang diwarnai oleh sila-sila Pancasila.
3. Model pendidikan , yang membahas tentang model pendidikan di Indonesia yang tepat.
4. Cara mencapai tujuan, yaitu segi tehnik dari pendidikan itu sendiri

G. Dampak Konsep Pendidikan
1. Filsafat pendidikan Indonesia perlu segera diwujudkan agar ilmu pendidikan bercorak Indonesia lebih mudah dibentuk
2. Peranan dan pengembangan sila-sila Pancasila pada diri peserta didik pada hakikatnya adalah pengembangan afeksi. Pendidikan afeksi, kognisi, psikomotorik harus diperlakukan sama.
3. Pendidikan Pancasila dan pendidikan agama tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi satu sama lain.
4. Materi pendidikan afeksi selain bersumber dari bidang studi yang membahas moral Pancasila dan ajaran agama, sebaiknya dilengkapi dengan nilai-nilai dan adat istiadat yang masih hidup di masyarakat Indonesia serta budi pekerti luhur yang tetap dijunjung di Indonesia.
5. Metode mengembangkan afeksi bisa dibagi dua yaitu:
a. Untuk pendidikan afeksi yang berbentuk bidang studi.
b. Untuk pendidikan afeksi yang diselipkan pada bidang studi yang lain.
6. Evaluasi pendidikan afeksi haruslah dilakukan secara nyata, diberi skor, dan dimasukkan ke dalam rapor seperti bidang studi yang lain.
7. Dalam mengembangkan materi pendidikan afeksi, sangat mungkin sumber materi berasal dari luar negeri.
8. Dalam rangka pengembangan afeksi peserta didik, ada baiknya kondisi ke arah itu sengaja diciptakan.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: