Oleh: uun nurcahyanti | Juli 22, 2011

Dongeng Dan Indonesia Masa Kini


(Catatan pribadi dari materi Maman S. Mahayana pada Sastra Internasional di Ngawi)

Mendongeng Dan Konsepsi Bangsa
Cerita rakyat adalah cerita yang konon katanya berkaitan erat dengan mitos-mitos yang ada dalam masyarakat suatu bangsa. Sehingga cerita rakyat sering dianggap sebelah mata karena hanya menjadi dongeng pengantar tidur dan dibicarakan dalam ruang-ruang yang penuh remeh temeh belaka.

Padahal, dalam konsep pendidikan anak usia dini yang saat ini telah begitu pesat berkembang, ritual favorit saya waktu kecil saat menjelang tidur ini, ternyata merupakan stimulasi yang sangat penting untuk mendorong daya imajinasi dan menguatkan kecerdasan linguistik dan kemampuan komunikasi pada diri anak.

Disamping itu, ritual mendongeng juga merupakan sarana efektif dan terstruktur untuk penanaman karakter-karakter dasar pada diri seorang anak yang memang belum memiliki konsepsi diri dan masih kosong konsepsi hidup. Artinya, mendongeng atau sebuah dongeng terutama yang kerap didengar anak menjelang tidurnya bisa dikatakan sebagai pilar utama pembentukan kepribadian seorang anak. Dan bila kita tarik benang merahnya lebih lanjut, maka kita tentu sangat sadar bahwa anak-anak inilah yang kelak akan menjadi para penerus perjuangan dan tradisi besar bangsanya.

Dongeng Ala Indonesia Dan Nilai Hidup Bangsa

Dongeng-dongeng menjelang tidur yang populer dalam masyarakat suatu negara bangsa adalah cerita rakyat dari negara yang bersangkutan. Di Indonesia, cerita rakyat yang populer sebagai dongeng pengantar tidur adalah cerita tentang Si Kancil, Bawang Putih Bawang merah atau cerita-cerita dari Ranah Minang seperti Malin Kundang dan Batu Menangis dan juga cerita-cerita dari daerah-daerah lain.

Bila kita tilik lebih jauh tentang cerita-cerita ini, kita akan menemukan satu karakteristik tema dalam cerita rakyat yang berkembang di Indonesia. Si Kancil, misalnya, cerita paling populer ini menanamkan ajaran tentang Si Kancil yang licik dan gemar memanfaatkan teman-temannya demi keuntungan pribadi atau meloloskan diri dari tanggung jawab penerimaan hukuman. Semua seri cerita tentang Si Kancil ini memberikan tata nilai yang seragam dan berkisar tentang hal-hal tersebut. Cerita yang dikemas segar dan terkesan lucu ini, sebenarnya mengandung nilai hidup yang gamang, rapuh dan tidak mengakarkan hal-hal mulia.

Kisah Bawang Putih bawang Merah membawa tata nilai yang lain lagi yaitu tentang kepongahan saudara tiri dan ketidakadilan yang diciptakan oleh orang yang seharusnya dipercayai sebagai pelindung, sebagai panutan utama seorang anak manusia, yaitu ibu. Dalam kisah ini yang memiliki karakter tak elok memang adalah ibu tiri, tapi meski bagaimana seorang ibu tentu adalah sosok tauladan bagi anak-anak dan lingkungannya. Bila penggambaran tentang sosok ibu tiri adalah jahat dan culas serta tidak adil, maka tereduksilah kemuliaan sosok seorang ibu secara keseluruhan. Kemudian, Bawang Putih yang baik hati,giat bekerja dan selalu berprasangka baik digambarkan sebagai sosok yang nyaris tak pernah beruntung.

Lain lagi dengan kisah favorit lainnya, yaitu Malin Kundang. Cerita Malin Kundang menggambarkan tentang kisah seorang anak perantau yang sukses. Namun kondisinya menjadi berbeda karena setelah sukses dalam perantauannya, si Malin Kundang malah justru melupakan peran dan keberadaan ibunya karena sang ibu sudah renta dan dalam kondisi yang miskin papa. Kesuksesan malah menjadi titik balik seorang anak manusia untuk melupakan akar muasal dirinya. Akhirnya sang ibu pun mengutuknya dan Malin Kundang berubah menjadi batu.

Dalam cerita ini tidak ada semangat rekonsiliasi setelah kesalahan fatal yang dilakukan Malin Kundang atas ibunya dan tidak ada akhir cerita yang happy ending. Yang ada adalah sebuah kemarahan dan berakhir dengan sebuah kutukan alias hukuman tanpa perbaikan diri.

Dan, akibat dari cerita-cerita ini pun tentu sangat terukur dan terprediksi yaitu munculnya karakteristik diri, konsep kepribadian dan kualitas mental suatu generasi yang berbau Si Kancil ini. Dan hasilnya pun secara nyata telah kita rasakan dari waktu ke waktu yaitu semakin melemahnya keteladanan nasional dari orang-orang besar yang dianggap sebagai tokoh-tokoh penting dari bangsa ini. Karakter licik, semau gue dan teman-teman gue serta lebih mementingkan diri, keluarga dan komunitasnya pada akhirnya menjadi karakter khas masyarakat bangsa besar ini.

Di sisi yang lain kita juga melihat para anggota DPR dan MPR yang terhormat yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan golongannnya dan saling bekerja sama dalam meliciki rakyat yang telah meletakan kepercayaan di bahu mereka dan telah memilihnya sebagai wakil hati nuraninya, adalah gambaran nyata bahwa penanaman karakter lewat dongeng cerita rakyat ini memang sangat berhasil. Si Kancil yang licik berpadu dengan konstalasi nilai Bawang Merah yang pada akhirnya menindas dan mengabaikan eksistensi Bawang Putih dengan dukungan penuh ibunya!

Sehingga, tentu dianggap wajar saja bila lembaga kepresidenan yang merupakan kepala rumah tangga dalam rumah besar Indonesia ini, akhirnya bekerjasama dengan golongan-golongan dan orang-orang yang se-karakter dan se-ide untuk menindas dan mengebiri eksistensi anaknya yaitu si Bawang Putih, yang dalam hal ini bisa kita setarakan dengan rakyat Indonesia yang lebih berasa sebagai anak tiri sebuah negara bangsa daripada anak-anak bangsa yang senyatanya.

Hal lain yang sangat jamak kita jumpai dan rasakan adalah rendahnya kemauan para anak bangsa untuk menggalang mimpi muda mereka sebesar-besarnya dan membumbungkan keinginan besar mereka setinggi-tingginya. Mengapa? Karena khilaf dan lupa dikhawatirkan akan sangat mungkin terjadi manakala kita sukses. Ada ketakutan yang sangat dominan bila pada akhirnya para anak bangsa bakal menjadi Malin Kundang-Malin Kundang baru. Dan bila kekhawatiran seperti ini terus dipelihara dan muncul dari pihak orang tua maupun anak, lantas kapal besar bangsa ini mungkin tak akan pernah lagi berlayar kemana-mana!

Memori kanak-kanak adalah blue-print memori yang nantinya membentuk gambaran nyata masa depannya. Karakteristik diri, ciri kepribadian dan model mental yang pada nantinya terukir pada diri seorang individu adalah hasil serapan dan penanaman nilai pada masa kanak-kanaknya dulu. Kejadian-kejadian yang dialami seorang anak, stimulasi pemecahan masalah serta pemodelan kondisi psikologis dan juga dongeng-dongeng yang diserapnya pada masa ini adalah pondasi-pondasi dasar bagi pembentukan karakter mentalnya kelak. Bisakah kita bayangkan bila ternyata cerita-cerita menjelang tidur yang diserap dan diendapkan seorang anak dalam alam bawah sadarnya merupakan cerita yang tidak memiliki muatan nilai yang luhur..?


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: