Oleh: uun nurcahyanti | Juli 22, 2011

Doa Seorang Guru


Rukun Islam yang kedua adalah sholat. Dan hakekat sholat adalah berdoa.Doa adalah sebuah pelajaran berharga yang dicontohkan Allah agar kita menjadi orang yang senantiasa tidak tinggi hati saat kita menjadi pemimpin atau menjadi penguasa, penguasa atas apapun.Mengapa? Karena Allah yang Maha berkuasa atas segala sesuatu, teenyata sangat siap untuk dipinta dan dipohon atas segala hal yang pada hakekatnya adalah miliknya. Dan hebatnya lagi, Allah pasti mengabulkan segala doa yang kita pinta tersebut!

Sayangnya, seringkali kita sebagai pihak yang memohon,
kurang pandai dalam membaca tetes-tetes anugrah yang datang secepat kita memintanya. Sayangnya juga, kita seringkali memanjatkan doa yang tidak sesuai dengan maksud hati kita yang sebenarnya.

Inilah contoh doa tak bermutu itu, doa seorang guru untuk seorang anak didiknya yang penuh semangat. Si anak hebat ini punya mimpi untuk selalu naik kelas agar bisa bertemu dengan sang guru sampai-sampai dia seringkali bilang pada sang guru saat mereka, “Ibu, akan pasti akan menjadi murid ibu di kelas lima nanti!”

Duhai, sebuah niatan hati yang sungguh mulia dan sang pemilik niat pasti tak akan main-main dengan tekadnya itu. Sang guru pun terikat hatinya pada itikad hebat ini. Nuraninya bergetar pada tatap mata indah yang penuh semangat dari seorang anak muda luar biasa ini. Dia pun memohon pada Tuhan pada doa-doanya untuk sang buah hati:

Ya Rabb, Pemilik Semesta..
Kumohon padamu dengan segenap hatiku,

Jagalah api perjuangan laki-laki hebat ini,
Kukuhkan langkahnya untuk meraih mimpi-mimpinya…

Ya Rabb, Pemilik Segala Harap..

Izinkan ku mampu menggenggamnya dalam lingkar ilmu.

Beri aku waktu…
Tuk tuangkan sedikit ilmuku pada altar ilmunya.

Ya Rabb,,

Perkenankan kami menjadi sahabat sejati,
Dalam menganyam ilmu..

Sebuah untaian doa yang selalu diucapkan sang guru dengan segenap jiwa dan sepenuh harap. Sebuah doa yang indah.

Suatu hari, sang guru mengadakan workshop untuk sebuah program selama beberapa hari dan si murid mengikuti program tersebut. Bertemulah mereka pertama kali dalam suatu bejana keilmuan. Rajutan doa telah bertemu dengan momen yang merupakan anugerah ilahiah. Saat workshop yang rencananya berlangsung seminggu itu baru berjalan dua hari, si murid mendapat tawaran pekerjaan yang memungkinkannya mendapat penghasilan tinggi dan mampu melanjutkan hidup dan mengembangkan eksistensi dirinya. Dia pun mengambil keputusan untuk meraih peluang itu dan meninggalkan sekolahnya.

Sebuah kenyataan yang ironis dan terasa sangat tidak nyaman bagi sang guru. Ada perih yang tiba-tiba terpatri dalam nuraninya. Keinginan untuk saling menyulam benang-benang semesta dalam rajutan ilmu seketika melepuh. Pilihan si murid adalah hal yang sangat mendasar dan ia sangat bisa memakluminya. Hidup pada masa sekarang memang butuh biaya yang tidak murah, sementara sekolah dan keilmuan dasar pasti tidak mampu memberi jawaban atas persoalan ini. Meski merasa pedih dan tidak sepenuhnya berela hati, sang guru melepaskan pemilik mata elang itu pergi meninggalkan ruang-ruang sekolah tuk menyambut dunia yang senyata-nyatanya.

Siang itu, saat si siswa meninggalkan sekolah usang itu, sang guru tak mampu berucap sepatah katapun. Airmata yang lama menggenang di pelupuk matanya pun akhirnya luruh menjadi butiran-butiran bening yang terasa hangat. Mengaliri pipinya.

Kata si siswa sebelum beranjak pergi, “Doakan Allah senantiasa merahmati dan meridhoiku, ibu..demikian juga dengan ibu…”

Seketika itu juga sang guru tersadar pada kebesaran Illahiah. Doa yang selama ini dipanjatkannya sepenuh hati itu ternyata telah menjelma dalam kenyataan. Sangat nyata! Duhai..

Mereka berdua telah bertemu dalam satu rajutan ilmu. Sang guru telah diberi Tuhan kesempatan untuk menuangkan sedikit ilmunya, sedikit saja, sesuai dengan yang dipintanya. Sang siswa pun juga telah dikukuhkan hatinya untuk memilih mengejar mimpinya, meski itu berarti sekolahnya tidak akan pernah tunai..

Jawaban Tuhan atas permintaan manusia selalu tuntas sesuai dengan getar keinginan yang dipinta hambanya tersebut. Kadang terasa tidak adil seperti kisah diatas. Namun, bila dikaji lebih jauh, memang seperti itulah jawaban hebat dari Tuhan. Itulah keadilan yang indah tanpa cela.Tuhan tidak mungkin gegabah dalam menyusun sebuah rajutan cerita. Tuhan juga pasti tuntas menjawab pinta dan kemauan hambanya.Sungguh, sebuah jawaban lugas pada doa yang bias.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: