Oleh: uun nurcahyanti | Juli 20, 2011

Ken, aku jatuh cinta..


Ken, sudah kulukiskan mimpiku pada langit dan samudra. Sudah kutatahkan mimpi-mimpiku itu pada batu karang dan segala lembah. Pada gunung dan bebatuan yang betebaran di permukaan daratan. Ketegaran dan ketegasanmu mulai merasukiku tanpa cela; membangkitkan kembali karakter-karakter agungku yang mulai memfosil dan terkubur lumpur waktu.

Ku tersungkur dalam ruang kesadaran bahwa ada waktu dimana kita tinggal, melempar sauh dan bergerak dalam putaran masa. Ada waktu dimana, kemudian, kita akhirnya mesti mengalir menelusuri lorong waktu dan bersenggama dengan petualangan hidup. Bergerak kan , Ken.. kuncinya adalah bergerak. Merenangi samudra pengetahuan yang tanpa batas ini.
Kau bermimpi tuk bisa studi ke Cambridge, kan?

Kau tau, Ken, mimpimu itu menggetarkan palung-palung hampa dalam diriku sejak pertama kali kau mengungkapkannya. Dalam airmataku yang berpeluh jutaan dzikir, selalu ku amini mimpimu itu. Selalu, Ken!

Ku jadi sering merenung: mengapa tak pernah bermimpi segila mimpi-mimpi yang kau punya..?
Ku merasa marah pada diriku sendiri karena selama ini hanya menjadi individu garing yang kerjanya mengamini mimpi orang lain saja tanpa pernah meraut ujung pensil mimpiku sendiri!
Memang, Ken, betapa banyak kemarahan dalam diriku yang menunggu untuk dimuntahkan. Mungkin ku terlalu suka menggauli kegelisahan, hingga tanpa sadar kemarahan demi kemarahan tanpa ampun tertimbun dalam ruang hati dan lorong-lorong pikiranku.

Tapi Ken,bisa jadi justru kemarahan-kemarahan itulah batubaraku. Bahan bakarku untuk terus ber-ide, bermimpi dan melahirkan karya! Bahkan mungkin akan tercipta suatu masterpiece suatu saat nanti. Pasti! Suatu masterpiece! Duhai..

Ku janji, Ken…

Mungkin masalah utamaku adalah kegamanganku, Ken. Aku adalah sosok yang sangat mudah gamang dan..sering merasa rapuh. Padahal ku juga acapkali tak mempedulikan hal itu. Ku suka tetap nekat maju menerjang segala aturan. NEKAT!!

Kondisi yang kontradiktif ini sering menempatkanku dalam keadaan yang membingungkan bagiku sendiri, Ken.. (dalam istilah Jawa, seorang karibku saat SMA dulu pernah bilang karakteristik ini sebagai keladuk wani kurang dugo)

Kritikan yang boleh dibilang cukup sadis, Ken, tapi kritikan inilah yang membuatku berkejaran dengan waktu. Yah..ku pun akhirnya berjuang melawan waktu untuk mematahkan kotak-kotak karakter dan takdir yang terlanjur mengikat jalanku sejak awal penciptaaanku.
Bukankah karakter-karakter ke-Tuhan-an juga mengalir dalam darah kita, mengenyalkan daging kita, dan menghangatkan nafas kita?

Kemarahanku ini juga yang membawaku pada cinta yang tak bisa kuurai alasannya, Ken..
Hal yang bahkan juga tak mampu kucerna,jatuh cinta!
Pernahkah kau berpikir tentang negaramu ini, Ken..? Apakah kau cinta bangsamu ini, Ken? Bangsamu yang menyebalkan ini?! (meminjam istilah Eep Saefulloh Fatah) Bangsa yang belum juga memperjelas arah kapalnya mau kemana ini..? Bangsa yang belum jua siap berdiri tapi justru sangat siap untuk dikebiri ini..?

Pasti kepalamu langsung menggeleng dan mata bulatmu berbinar hampa kan Ken..?! Eropa atau Australia mungkin lebih bergaung di benakmu, juga berpuluh kesempatan bea siswa tuk mewujudkan mimpimu tuk belajar demi kehausanmu akan ilmu pengetahuan..

Entah setan apa yang merasukiku..tapi ku tak lagi bermimpi tuk mengejar bea siswaku ke California, Ken..dan bersaing denganmu yang di Cambridge!

Bangsa yang siap dijajah, dirampok dan diperkosa ini justru telah membuatku mabuk kepayang! Jatuh cinta tanpa lelah..!! Dan aku pun juga sudah tahu konsekuensinya. Aku harus siap sakit, patah hati dan bahkan termarjinalkan! (Seperti Gueteres yang mati-matian mempertahankan Timor Timur tapi malah di cap pengkhianat..)

Indonesia memang negeri yang aneh, Ken, orang yang punya rasa cinta dan nasionalisme yang tinggi pada negara malah menjadi musuh negara! Ku tahu itu, Ken, dan ku harus mengumpulkan keberanian untuk menjadi bagian dari mereka.

Bila saat itu tiba, Ken, kau pasti kan ingat bahwa ku pernah katakan ini padamu.
Kau pernah bilang bahwa meskipun kita jauh tapi hati kita tetap dekat, saling bersandar…
Apakah hati kita kan tetap saling bersandar bila saat itu tiba, Ken? Apakah ku akan kehilangan sandaran hati dan tak lagi memiliki sahabat, yang membuatku tak ingin tenggelam, bila akhirnya ku terbuang dari arus hiruk pikuk negeri ini, Ken?

Ku terlanjur tenggelam dalam pekatnya rasa cinta itu, Ken. Mungkin kau kan memberiku sumpah serapah atau pun bogem mentah!

Tapi ku tak akan peduli! Apapun itu, ku adalah lelaki yang tengah gandrung dirundung cinta.. dan bukankah cinta juga yang membuat kejayaan Troy jadi tinggal legenda penuh tanya, kawan..
Ken, biarkan ku jatuh cinta..!

Akhir Mei 2009


Responses

  1. bagus kisahnya… mengambarkan konflik batin dengan apik.
    🙂 salam,

    mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com
    http://piguranyapakuban.deviantart.com

  2. Terima kasih pak Mochammad, semoga terus bisa bersilaturahmi kata..


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: