Oleh: uun nurcahyanti | Juli 20, 2011

FORMULA ONE


Pagi ini saya pulang ke Pare dengan setengah hati. Karena beberapa jam lalu team kesayangan saya, Manchester United, tak mampu mengungguli Barcelona yang memang bermain sangat cantik dan konsisten. Barcelona memang pantas memenangi piala Champion Eropa tahun ini. Rasanya tak ada alasan untuk tidak angkat topi dengan team hebat ini. Manchester United memang harus berbesar hati menerima kekalahannya, tentu suatu kebanggaan dikalahkan oleh team yang bermain dengan sangat luar biasa, sebuah pelajaran berharga tentunya untuk Manchester United agar kedepannya lebih hebat lagi. Kekalahan bukanlah hilangnya kebanggaan kami pada perjalanan sejarahmu! Go MU!Go!!
Dengan mata yang masih ingin terpejam sebenarnya, saya pulang ke Pare. Karena saya juga masih berazzam untuk bisa bertemu dengan mas Bandung Mawardi, pemateri diskusi Rumah Anak Bangsa malam sebelumnya. Hal yang sangat kebetulan terjadi karena saya mendapat bis yang jurusan Malang-Tuban, bukan Malang-Kediri. Daripada menunggu lagi maka saya naik bis tersebut karena saya bisa oper bis Malang-Kediri di daerah Kandangan. Dan yang saya tumpangi ini ternyata memiliki sopir dan kernet yang berjiwa pembalap sehingga kebut-kebutan pun terjadi disertai salip-menyalip yang membuat hati berdesir-desir.
Dalam perjalanan nan menegangkan membuat seluruh rasa kantuk terbang itu, saya berpikir tentang balap mobil paling bergengsi di dunia yaitu Formula One.Dalam balap mobil terkeren itu, belum pernah ada lintasan yang kesulitan jalurnya seperti jalur Malang- Kandangan, dan sopir bis saya dengan para sopir bis lainnya bisa menguasai jalur ini dengan sangat baik. Disamping itu lintasan ini adalah jalur dua arah yang tentunya membutuhkan ketrampilan menyopir yang tidak main-main. Selain itu juga pasti dibutuhkan terampilan dalam menganalisa kondisi dan situasi secara akurat dan ciamik, dan tentu saja keberanian yang juga luar biasa.
Sopir bis adalah orang yang paling bertanggungjawab atas keselamatan penumpang bisnya. Andai perhitungannya meleset sedikit saja, atau terjadi kondisi diluar yang diperhitungkannya, maka yang terjadi adalah petaka baginya, para penumpang dan juga keluarganya. Dan hanya orang-orang luar biasa dan berani yang mampu berhitung dengan mautlah yang berani mengambil resiko seperti ini. Dan merekalah orangnya!
Meski ada kengerian yang tercipta diseluruh ruang hati saya, dan mungkin juga para penumpang bis lainnya, namun saat itu saya membayangkan seandainya ada orang yang mau mewadahi para sopir bis yang luar biasa berani ini untuk mengikuti lomba balap mobil seperti Formula One atau balap mobil lainnya, tentu Indonesia akan memiliki wakil di ajang balap mobil internasional yang pasti akan mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia.
Sayangnya ajang balap mobil adalah ajang mahal dan hanya milik orang-orang berduit dan bercitra wangi, sehingga secara otomatis yang bisa mengikutinya pun adalah dari golongan the have ini. Sementara kita juga pasti mahfum bahwa golongan ini adalah kaum pemuja material dan kedarmawisataan. Arena unjuk kecepatan yang membutuhkan keakuratan hitungan dan keberanian dalam menghadapi maut dalam kotak tehnologi, bukanlah wilayah yang aman untuk dicoba. Kalaupun ada yang berani coba-coba, pasti popularitas dan kesenangan jua yang menjadi tujuan utama, misanya sekedar menyalurkan hobi_menyalurkan hobi kok ya cuma sekedar, terkesan sangat sesampainya, tidak sampai ya tidak apa-apa! Sehingga sangat wajar memang bila akhirnya mereka tidak mampu mencapai titik maksimal. Lha wong titik maksimal saja tidak teraih, apalagi meninggikan posisi ke titik maksimum, jelas bagai menggarami air laut. Dan akibatnya sangat nyata, Indonesia belum memiliki wakil yang cukup berprestasi di ajang adu kecepatan dan keberanian ini.
Bila kita bandingkan dengan kondisi para sopir yang sering dianggap ugal-ugalan ini, kondisinya sangat tidak sama. Para sopir ini menanggung beban tanggung jawab untuk memberi nafkah keluarganya, bermimpi anak turun mereka kelak memiliki kondisi hidup yang lebih cemerlang. Kondisi rumit yang melingkupi mereka dan keinginan untuk unjuk bakat dan keberanian dengan aroma persaingan antar sesama sopir bis, membuat para sopir bis ini memiliki ketajaman perhitungan yang luar biasa dalam berbagai medan sulit yang mereka hadapi setiap harinya, seperti jalur Malang-Kandangan ini. Medan berat ini jua yang pada akhirnya membentuk postur-postur keberanian para sopir bis ini. Mereka bukan orang-orang yang tidak mengenal mara bahaya dan bukan orang-orang yang tak punya nurani, mereka hanya orang-orang yang memiliki kondisi tergenjet antara tanggung jawab pribadi,sosial, dan haus akan eksistensi diri dalam tingkat adrenalin yang luar biasa tinggi. Dan bukankah seperti ini modal dasar dan tipikal khas para pembalap profesional itu?!
Sepanjang jalan itu dan bahkan sampai detik ini, saya beranan-angan bila saja ada orang-orang ikhlas yang berkenan mewadahi mereka untuk unjuk ketrampilan di track-track balap, maka Sang Merah Putih akan mampu berkibar di ujung tiang tertinggi dunia. Dunia tidak akan mengenal Valentino Rossi saja, mereka juga akan mengenal Harsono. Anak-anak muda Indonesia tidak akan berteriak-teriak memanggil Nicky Haiden saja tetapi mereka juga akan memekikan nama Sudrajat atau Sitanggang seperti dulu kita memuja Sumardi, seorang pelari jarak pendek asal Salatiga Jawa Tengah era delapan puluhan. Betapa kita rindu nama-nama asli Indonesia muncul di ajang kompetisi dunia, tapi bukan ajang Miss Universe dan sejenisnya yang kadang hanya milik kaum dan golongan tertentu dengan desain wajah yang justru sangat tidak Indonesia sekali.
Bayangan para sopir bis ini mengendarai jet darat dan berlomba diajang Formula One dengan seragam bergambar Garuda dan Merah Putih di tangan dan dada mereka disertai dengan pekikan seluruh anak negeri Indonesia ini dalam memberi semangat mereka, membuai segala rasa di dalam dada saya. Seakan menenggelamkan sedikit rasa sesal karena tidak hadir dalam diskusi Rumah Anak Bangsa sabtu malamnya, dan seulas rasa sedih atas kekalahan Manchester United dari Barcelona dua jam sebelumnya. Andai orang-orang ikhlas itu membuka pintu kesuksesan ini, dan ikhlas ajang Formula One dimasuki oleh para pembalap sejati ini, maka kita akan bernostalgia dengan lagu: Nenek Moyangku Seorang Pelaut…!
Sahabat, sungguh kita adalah Bangsa Yang Gagah Berani!!
Ahad, 29 Mei 2011 (perjalanan Malang-Kediri)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: