Oleh: uun nurcahyanti | Oktober 1, 2012

MENGGADAIKAN BAHASA INDONESIA DI SELOKAN ZAMAN


Uun Nurcahyanti

Bahasa mengutuhkan peradaban. Bahasa adalah adab. Kemajuan peradaban suatu selalu berdasarkan akar dan pertumbuhan kebahasaannya. Bangsa-bangsa besar berbincang dengan bahasanya, dan mencipta kerja-kerja kebudayaan yang akan menopang sejarah dan masa depannya. Menghidupkan bangsa dengan bahasa yang khas akan dapat melanggengkan peradaban. Melalui kerja berbahasa, bangsa itu ada dan maju.

Bahasa Indonesia telah dipilih oleh bangsa ini lewat kesepakatan politik dan budaya sejak 1928. Pilihan yang mendahului kelahiran negara yang bernama Indonesia, 1945. Bahasa Indonesia tumbuh di tengah kekuasaan bahasa Belanda yang lebih akrab meluncur di lidah kalangan intelektual. Berbagai gerakan bangsa bersinergi demi membumikan bahasa Indonesia atas nama kesadaran kebudayaan dalam rangka mencipta sebuah bangsa yang punya harga diri. Bahasa disadari merupakan bagian tak terpisahkan dari ritus kebangsaan. Intinya, bahasa merupakan simbol tersahih sebuah bangsa. Bahasalah yang memberi warna bangsa.

Instanitas Bahasa

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 diberlakukan oleh pemerintah dengan mendirikan sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Pada saat itu sebenarnya penegasan kastanisasi sekolah memulai era barunya secara lebih menawan karena didukung peraturan pemerintah yang tentu berkekuatan hukum dan berefek secara politik, ekonomi, budaya.

Meski terus menuai kritik, pemerintah tampaknya cuek. Perjalanan RSBI dan SBI terus bergulir selama hampir satu dasawarsa. Artinya, era globalisasi harus mendapati dirinya sebagai kiblat utama versi pemerintah. Globalisasi diagung-agungkan atas nama kehendak zaman, keharusan yang tidak mungkin dihindari. Sayangnya, kehendak zaman ini dijalankan dengan cara instan. Maka, makna internasional disempitkan dalam ketiak bahasa Inggris.

Kebijakan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah model RSBI dan SBI ini melahirkan euforia tersendiri. Seluruh energi lantas difokuskan demi pintar berbincang dalam bahasa asing secara gampang dan pragmatis. Akhirnya, bertemulah kebutuhan berbahasa dengan mentalitas proyek yang telah begitu mengakar di Indonesia. Sekolah bukannya mencipta budaya berbahasa ini sebagai kerja aktualisasi diri, tetapi berselingkuh dengan banyak kepentingan yang terkait politik dan ekonomi global, serta globalisasi kebudayaan yang bersumber dari Barat.

Bahasa Inggris yang ditargetkan untuk dikuasai sebagai bagian dari pembelajaran ilmu pengetahuan malahan menjadi kendaraan hias yang ditawan demi kerja-kerja proyek yang mengatasnamakan internasional. Penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah akan menggiring pihak sekolah untuk memaknai tugas bahasa ini dengan nalar yang gampang tersesat. Contoh, memaketkan liburan sekolah dengan wisata kursus singkat bahasa Inggris. Memadupadankan kuliah observasi pendidikan dengan piknik yang berbiaya mahal.

Kerja bahasa yang merupakan kerja budaya yang memiliki ritme dan ritusnya sendiri akhirnya tersungkur atas nalar konsumtif, yang serba berhitung laba dan rugi. Padahal, kerja bahasa adalah proyek nalar dan kebudayaan yang bernafas dengan udara perjalanan dan ketekunan. Kerja bahasa, apapun bahasanya, adalah kerja pewarisan zaman itu sendiri. Kerja merawat bahasa sama artinya merawat
peradaban.

Terpuruk Bahasa

Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar tidaklah sama dengan kerja mengantarkan tamu ala budaya kita yang cukup diantar hingga gerbang rumah dan berakhir saat tamu beranjak pergi. Bahasa pengantar di sekolah bermakna pembahasaan nalar dan peredaksionalan logika sebuah materi pelajaran agar sampai dan diterima siswa. Bahasa pengantar seharusnya akrab dan berkemampuan membuka birahi mentalitas siswa demi menguak cakrawala perenungannya pada ilmu pengetahuan yang tengah digelutinya.

Kebijakan pemerintah dalam sistem RSBI/SBI yang menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar justru berpotensi mengasingkan siswa dengan jendela pengetahuannya. Mereka akan lebih disibukkan dengan mematut-matut diri dengan polesan bahasa asingnya daripada mengasah nalar ilmu yang semestinya digumulinya sampai tandas. Demikian juga dengan segala perangkat sekolah, yang akan lebih tersedot perhatiannya pada pencitraan-pencitraan fisik bahasa. Sertifikasi pun dikejar dengan asumsi konsumtif dan melupakan perjalanan biografi seluruh civitas akademika yang bukan terbentuk di hari-hari ini saja. Kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris menjadi patokan intelektualitas dan menafikan kualitas-kulitas dari mereka yang tak fasih mengucapkannya.

Keterasingan yang didesain dengan sengaja seperti ini secara perlahan akan menihilkan kebudayaan dan peradaban sebuah bangsa. Kerja menghidupkan dan merawat bahasa Indonesia yang telah dirintis selama puluhan tahun bisa berserak dengan kebijakan yang tak bijak yang telah dijalankan selama hampir satu dekade saja. Bahasa Indonesia pun harus rela terpuruk dan menjadi asing di tengah masyarakatnya sendiri.

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.185 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: